Namun, Siti mengingatkan efisiensi tidak boleh membuat aspek etika dan keamanan digital terabaikan.
Guru, kata dia, perlu memahami bagaimana menggunakan AI secara bertanggung jawab, termasuk dalam menjaga data dan privasi siswa.
“Guru tidak hanya dituntut mampu mencegah risiko seperti plagiarisme kognitif atau kebocoran privasi data siswa, tetapi juga harus bisa menjadi teladan bagi anak didik mereka dalam berinteraksi dengan teknologi secara bertanggung jawab dan jujur di ruang siber,” terang saat menyampaikan materi Penguatan Fondasi Etika dan Keamanan Digital.
Baca Juga:Cegah Anemia Remaja Putri, Pemkot Tasikmalaya Gencarkan Aksi Bergizi di SekolahPedagang Dadaha Kota Tasikmalaya Keluhkan Sepinya Pembeli, 1.000 Paket Sembako Jadi Napas Bantuan
Di lapangan, persoalan yang dihadapi guru bukan hanya urusan mengajar. Waktu produktif mereka juga kerap tersita untuk pekerjaan administratif, penyusunan dokumen dan pelaporan yang bersifat berulang.
Di titik inilah AI dinilai dapat mengambil peran sebagai asisten kerja.
Siti mengatakan pemanfaatan AI dapat membantu guru mengubah materi pembelajaran lama menjadi bahan ajar yang lebih visual, dinamis dan sesuai dengan karakter belajar siswa saat ini.
“Melalui pelatihan hands-on atau praktik langsung seperti ini, rekan-rekan guru dan tenaga kependidikan mendapatkan solusi konkret yang sangat kami butuhkan. Kami diajarkan bagaimana menyulap materi-materi pembelajaran lama menjadi format visual yang jauh lebih segar, dinamis, dan relevan dengan gaya belajar siswa SMK saat ini,” katanya.
Dengan waktu pengerjaan perangkat ajar yang lebih singkat, guru diharapkan memiliki ruang lebih banyak untuk melakukan hal yang tidak bisa sepenuhnya digantikan teknologi, seperti membimbing penalaran kritis, membangun interaksi dan memperhatikan perkembangan karakter siswa.
“Dengan adanya AI, waktu pengerjaan perangkat ajar kini bisa dipangkas drastis, sehingga sisa waktu yang ada bisa kami alihkan untuk memperkaya interaksi, membimbing penalaran kritis, dan memperhatikan perkembangan karakter anak didik di ruang kelas,” tambahnya.
Workshop tersebut dirancang bukan sekadar menyampaikan teori. Setiap peserta diwajibkan membawa laptop untuk mengikuti sesi praktik.
Baca Juga:Hayu Gawe Go Tiap Pekan! Disnaker Kota Tasikmalaya Terus Permudah Hubungkan Pencari Kerja dan PerusahaanGeng Motor Mengganas Lagi di Kota Tasikmalaya, Mahasiswa Demo Gedung DPRD Hingga Malam Hari
Setelah mendapatkan materi mengenai etika dan keamanan digital, peserta masuk ke sesi berikutnya yang dipandu Dewanto Rosian Adhy bersama tim.
Peserta dikenalkan dengan teknik menyusun perintah atau prompt AI secara efektif dan presisi. Mereka kemudian mempraktikkan penggunaan sejumlah platform, di antaranya Google Gemini dan Canva AI.
