TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kota Tasikmalaya kembali dibuat gaduh oleh persoalan geng motor.
Kali ini bukan suara knalpot yang menjadi sorotan, melainkan suara mahasiswa dan pelajar yang menuntut aparat serta pemerintah tidak sekadar sibuk setelah korban berjatuhan.
Puluhan mahasiswa dan pelajar yang tergabung dalam Aliansi Cipayung Plus Kota Tasikmalaya dan Poros Pelajar turun ke jalan, Selasa siang (8/9/2026).
Baca Juga:Agus Nugraha Pimpin Gapensi Kota Tasikmalaya, Regenerasi dan Profesionalisme Jadi Pekerjaan RumahJam Kerja Pegawai Pemkot Tasikmalaya Akan Berubah, Masuk Lebih Pagi
Mereka menggelar aksi di dua titik, yakni Mapolres Tasikmalaya Kota dan Gedung DPRD Kota Tasikmalaya.
Hingga pukul 21.21 WIB, massa masih bertahan di depan pintu Gedung DPRD Kota Tasikmalaya.
Aksi tersebut merupakan buntut keresahan atas kembali maraknya aksi kekerasan yang melibatkan geng motor di Kota Tasikmalaya.
Terlebih, aksi kekerasan jalanan itu baru-baru ini telah merenggut nyawa warga.
Sejumlah organisasi mahasiswa dan pelajar ikut turun ke jalan. Di antaranya PMII, KAMMI dan IPNU.
Namun, aksi kali ini bukan sekadar turun ke jalan sambil membawa poster dan pengeras suara.
Massa membawa 10 tuntutan utama yang diarahkan kepada tiga pemangku kebijakan, yakni Wali Kota Tasikmalaya, Ketua DPRD Kota Tasikmalaya dan Kapolres Tasikmalaya Kota.
Baca Juga:Pelaku Utama Kasus Remaja Kota Tasikmalaya Meninggal Dianiaya Geng Motor Ternyata di Bawah UmurBelum Kebagian Becak Listrik? Pemkot Tasikmalaya Buka Daftar Tunggu, Tegaskan Penerima Tak Terkait Desil
Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi, Teni Ramdani, menilai persoalan keamanan Kota Tasikmalaya sudah tidak bisa ditangani dengan pola reaktif.
Menurutnya, pemerintah dan kepolisian semestinya melakukan langkah pencegahan sebelum aksi kekerasan terjadi, bukan baru bergerak ketika sudah ada korban.
Kritik itu secara terang-terangan diarahkan kepada jajaran Polres Tasikmalaya Kota.
Teni menyoroti langkah patroli kepolisian yang menurutnya baru dilakukan beberapa hari setelah adanya korban jiwa.
“Masyarakat yang meninggal pada 2 September lalu, Polres Tasikmalaya Kota baru melakukan patroli tiga hari setelah ada korban. Lantas sebelumnya langkah preventifnya bagaimana?” tegas Teni kepada wartawan saat aksi di depan Mapolres Tasikmalaya Kota.
Ia mempertanyakan sejauh mana langkah antisipasi kepolisian sebelum kejadian tersebut terjadi.
“Kami nilai Kapolres tidak paham dengan situasi dan kondisi di Kota Tasikmalaya,” terangnya.
Bagi massa, persoalan geng motor tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.
Aksi kekerasan jalanan yang berpotensi menimbulkan korban jiwa dinilai sudah menjadi persoalan serius yang membutuhkan penanganan lintas sektor.
