Tak hanya polisi, pemerintah daerah dan DPRD juga ikut disorot.
Massa mendesak adanya evaluasi total terhadap Polres Tasikmalaya Kota, Pemkot Tasikmalaya dan DPRD Kota Tasikmalaya dalam menangani persoalan keamanan dan ketertiban masyarakat.
Sebab, menurut mereka, menjaga kamtibmas bukan pekerjaan warga seorang diri.
Pemerintah dan kepolisian memiliki kewajiban untuk memastikan masyarakat dapat beraktivitas tanpa dihantui aksi kekerasan di jalan.
Massa pun meminta penanganan tidak berhenti pada patroli dan penindakan setelah kejadian.
Baca Juga:Agus Nugraha Pimpin Gapensi Kota Tasikmalaya, Regenerasi dan Profesionalisme Jadi Pekerjaan RumahJam Kerja Pegawai Pemkot Tasikmalaya Akan Berubah, Masuk Lebih Pagi
Upaya pencegahan, pemetaan titik rawan, peningkatan patroli hingga penindakan terhadap pelaku dinilai harus dilakukan secara serius dan berkelanjutan.
Di tengah aksi tersebut, sejumlah pejabat akhirnya menemui massa.
Mereka di antaranya Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra, Ketua DPRD Kota Tasikmalaya Aslim dan Kapolres Tasikmalaya Kota AKBP Andik Eko Siswanto.
Namun, pertemuan tersebut belum membuat massa langsung membubarkan diri.
Hingga Selasa malam, massa masih bertahan di depan Gedung DPRD Kota Tasikmalaya.
Aksi itu sekaligus menjadi pengingat keras bahwa persoalan geng motor di Kota Tasikmalaya belum selesai hanya dengan satu-dua kali patroli.
Sebab, ketika rasa aman warga mulai dipertanyakan, yang dibutuhkan bukan sekadar respons setelah kejadian.
Pukul 21.30, wilayah pusat kota diguyur hujan. Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi pun menemui massa. Sekitar pukul 21.55, massa pun membubarkan diri. (rezza rizaldi)
