TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Seorang pengayuh becak yang sudah lansia asal Cieunteung Kota Tasikmalaya, Asep Darsono (66) hanya bisa menahan kekecewaannya karena status perubahan desil. Selain kehilangan jatah bantuan sosial (bansos), becak listrik yang sedang digembar-gemborkan pun tak didapat.
Sejak 35 tahun yang lalu, Asep masih setia mengayuh becak di sekitar Pasar Cikurubuk. Selama ini pekerjaan itulah yang menjadi tumpuan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Becak menjadi satu-satunya alat yang diandalkan Asep untuk mencari nafkah. Meski usia semakin bertambah, ia tetap bekerja karena kebutuhan hidup tidak berhenti.
Baca Juga:Pemkot Tasikmalaya Ingin Menata Dadaha, Meskipun PKL Tetap AdaKarena Tak Ada SPBU di Langkaplancar Pangandaran, Pertamina Anjurkan Pembelian BBM Lokasi-lokasi Ini
Sebelumnya, Asep tercatat dalam Desil 2 sehingga masuk daftar warga yang mendapat berbagai program bantuan sosial dari pemerintah. Namun dari hasil pemutakhiran data terbaru, statusnya berubah dan masuk ke Desil 6.
Perubahan tersebut berdampak langsung terhadap bantuan yang selama ini diterimanya. Asep mengaku sudah dua kali penyaluran bantuan pemerintah berlangsung, tetapi namanya tidak lagi tercatat sebagai penerima.
“Sekarang sudah dua kali keluar bantuan pemerintah, saya tidak dapat lagi. Katanya karena desil saya tinggi, masuk desil 6,” ujar Asep.
Padahal, menurut Asep, tidak ada perubahan besar dalam kehidupannya yang membuat dirinya merasa lebih sejahtera.
Ia sampai sekarang belum mempunyai rumah sendiri dan masih tinggal dengan cara mengontrak. Penghasilan sebagai tukang becak juga harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk dua anak yang masih menjadi tanggungannya.
Sebelumnya, Asep masih mendapatkan beberapa bantuan pemerintah, seperti bantuan sosial tunai dan bantuan beras. Bantuan terakhir yang diterimanya disebut setelah Lebaran 2026. Setelah itu, bantuan tersebut tidak lagi diterimanya.
Kondisi Asep kemudian mendapat perhatian anggota DPRD Kota Tasikmalaya, Kepler Sianturi. Dalam pengecekan bersama, Asep disebut berada pada kelompok desil yang sama dengan anggota DPRD tersebut.
Baca Juga:Anak Muda Wafat, Organisasi Pemuda Masih Rapat!Maulid yang Menunggu Wali Kota!
Hal itu membuat Kepler mempertanyakan akurasi data kesejahteraan yang digunakan pemerintah. Menurutnya, status dalam sistem semestinya dapat menggambarkan kondisi ekonomi masyarakat. Namun, dalam kasus Asep, data tersebut justru dinilai tidak sejalan dengan kehidupan yang dijalani sehari-hari.
Seorang warga yang masih bekerja sebagai tukang becak, belum mempunyai rumah sendiri dan masih mengontrak, justru tercatat dalam kelompok desil yang relatif tinggi.
