TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Ada suara yang lebih keras daripada knalpot. Namanya kematian. Knalpot bisa digeber malam-malam. Mengganggu satu kampung. Besok pagi mungkin sudah dilupakan.
Tetapi kalau seorang anak berusia 16 tahun meninggal setelah bentrokan yang diduga berkaitan dengan geng motor, suara itu tidak semestinya berhenti di telinga polisi.
Harus sampai ke ruang rapat wali kota Tasikmalaya. Bahkan kalau perlu sampai ke meja makan para pengurus organisasi pemuda. Sebab yang meninggal bukan angka statistik. Ia anak muda. Baru lulus sekolah.
Baca Juga:Maulid yang Menunggu Wali Kota!Audiensi di DPRD Kota Tasikmalaya, Vendor Bongkar Boroknya Parkir
Barangkali baru saja punya cita-cita. Barangkali baru saja ingin mencari pekerjaan. Barangkali baru saja ingin membahagiakan orang tuanya.
Tiba-tiba selesai. Hidupnya kalah cepat oleh gas motor. Persis seperti itu. Kita sering terlalu sibuk menghitung suara knalpot, tetapi lupa menghitung suara kesepian anak muda.
Padahal dua-duanya sama-sama bising. Bedanya, knalpot terdengar. Kegelisahan anak muda sering tidak.
Kabar tentang kematian remaja tersebut tentu menyisakan banyak pertanyaan.Apa penyebab sebenarnya? Apakah bentrokan? Duel? Dendam? Atau ada faktor lain?
Bahkan beredar cerita bahwa korban baru pulang menonton konser di wilayah Eks Terminal Cilembang dan dalam kondisi kurang sadar.
Semua itu masih membutuhkan penjelasan dan penyelidikan. Jangan sampai dugaan berubah menjadi vonis. Jangan pula kematian seorang anak dijadikan sekadar bahan unggahan media sosial.
Yang paling penting justru pertanyaan setelahnya: Mengapa anak-anak muda itu sampai berada di jalan pada malam hari dengan kemarahan yang tidak punya alamat? Itulah pertanyaan yang lebih sulit. Dan karena sulit, biasanya tidak ditanyakan.
Baca Juga:Tender Kursi Ketua GAPENSIGUS KIKIN, DARI TEBUIRENG KE PBNU
Di sinilah Karang Taruna seharusnya tidak hanya muncul ketika ada lomba tujuh belasan. Karang Taruna punya pekerjaan yang jauh lebih besar. Ia berada di akar rumput. Di kampung. Di kelurahan. Di tempat anak-anak muda tumbuh, nongkrong, bergaul, jatuh cinta, kecewa, menganggur, bahkan mencari identitas.
Karangtaruna memang bukan polisi. Tidak perlu menjadi polisi. Tidak perlu mengejar geng motor. Tidak perlu membawa pentungan. Tetapi Karang Taruna bisa melakukan sesuatu yang kadang tidak bisa dilakukan aparat: mengenal anak-anak itu sebelum mereka menjadi masalah.
