Anak Muda Wafat, Organisasi Pemuda Masih Rapat!

Knpi kota tasikmalaya, geng motor
Ilustrasi AI/chatGpt
0 Komentar

Pertanyaan itu penting. Tetapi ada pertanyaan kedua yang tidak kalah penting: “Mengapa kita semua tidak melihatnya sebelum terlambat?”

Ada satu ironi. Kita sering menyebut anak muda sebagai aset bangsa. Kalimat itu sangat indah. Tetapi aset biasanya dijaga.Anak muda justru sering dibiarkan tumbuh tanpa arah. Setelah bermasalah, kita menyebutnya kenakalan.

Setelah berkelahi, disebut kriminal. Setelah meninggal, disebut korban. Setelah dimakamkan, semua orang mengatakan:“Semoga menjadi pelajaran.” Pelajarannya apa?

Baca Juga:Maulid yang Menunggu Wali Kota!Audiensi di DPRD Kota Tasikmalaya, Vendor Bongkar Boroknya Parkir

Bahwa seorang anak harus mati dulu supaya orang dewasa belajar? Kalau begitu, harga sebuah pelajaran terlalu mahal.

Mungkin sudah waktunya Karangtaruna dan KNPI Kota Tasikmalaya membuat satu gerakan yang sederhana. Bukan seminar besar. Bukan gedung besar. Bukan spanduk besar.

Tetapi gerakan mendatangi anak muda. Masuk ke kampung. Masuk ke tongkrongan. Masuk ke komunitas motor. Masuk ke sekolah. Masuk ke lapangan. Duduk bersama mereka. Ngopi. Ngobrol. Mendengar.

Sebab kadang anak muda tidak membutuhkan ceramah. Mereka membutuhkan orang dewasa yang mau mendengarkan.

Kalau perlu, para pengurus Karangtaruna dan KNPI belajar satu bahasa baru: Bahasa tongkrongan. Supaya tidak setiap bertemu anak muda selalu membawa proposal.

Kita tidak sedang membutuhkan perang melawan geng motor. Kita membutuhkan perang merebut kembali anak muda dari jalanan.

Dengan olahraga. Dengan seni. Dengan pekerjaan. Dengan kewirausahaan. Dengan komunitas. Dengan pendidikan. Dengan ruang publik. Dan yang paling murah: Dengan perhatian.

Baca Juga:Tender Kursi Ketua GAPENSIGUS KIKIN, DARI TEBUIRENG KE PBNU

Sebab tidak semua anak yang menggeber motor ingin menjadi penjahat. Sebagian mungkin hanya ingin dianggap ada.

Sayangnya, kita sering baru sadar mereka ada setelah suara knalpot berubah menjadi suara sirene ambulans.

Karangtaruna punya kaki. KNPI punya mulut. Pemerintah punya anggaran dan kewenangan. Polisi punya hukum. Sekolah punya pendidikan. Orang tua punya kasih sayang. Kalau semuanya berjalan sendiri-sendiri, geng motor akan selalu punya ruang.

Tetapi kalau semuanya bergerak bersama, jalan raya tidak harus menjadi sekolah kehidupan bagi anak-anak kita.

Jangan sampai kota ini memiliki terlalu banyak organisasi pemuda tetapi kekurangan pemuda yang merasa memiliki masa depan. Dan jangan sampai rapat tentang pemuda lebih banyak daripada percakapan dengan pemuda.

0 Komentar