Namun karena jumlah peserta banyak, rencana tersebut berubah dan peserta disebut akan menginap di aula.
Warga lainnya, N, menyampaikan keterangan serupa. Ia mengaku ikut karena mendapat informasi mengenai kegiatan kerohanian dan syukuran keluarga serta perjalanan gratis ke Jakarta.
Keduanya mengaku sebelumnya tidak mengetahui secara jelas seperti apa lokasi tempat ibadah yang menjadi tujuan rombongan.
Baca Juga:Truk Tangki B50 Masuk Jurang di Gentong Tasikmalaya, Hindari Kendaraan Lain hingga OlengKesbangpol Kota Tasikmalaya Ungkap Duduk Perkara Dugaan Pemurtadan, Berawal dari Informasi Mulut ke Mulut
Tokoh masyarakat Setiajaya, Dede, mengungkapkan keberangkatan rombongan tersebut telah menimbulkan keresahan di masyarakat.
Menurut Dede, informasi yang diterima warga mengenai tujuan keberangkatan berbeda-beda.
Ada yang menyebut kegiatan tersebut sebagai pengajian, syukuran, wisata ulang tahun, hingga kegiatan di tempat ibadah.
Ia juga mempertanyakan alasan warga yang mayoritas beragama Islam diajak mengikuti kegiatan di tempat ibadah agama lain.
Dede menyebut terdapat informasi mengenai kegiatan ritual serta praktik yang disebut sebagai buka aura. Namun, berbagai informasi tersebut kemudian diklarifikasi dalam forum tabayun.
Ia meminta agar persoalan tersebut tidak berhenti pada informasi dari mulut ke mulut yang berpotensi memperbesar kesalahpahaman.
Kepala Kesbangpol Kota Tasikmalaya Ade Hendar menilai persoalan tersebut lebih banyak dipengaruhi adanya miskomunikasi.
Menurutnya, informasi yang disampaikan kepada peserta tidak sepenuhnya sama dengan informasi yang kemudian berkembang di masyarakat.
Baca Juga:Warga Tasikmalaya Diminta Tak Gampang Terprovokasi Hoaks, Aspirasi Tetap Harus BeradabDua Rumah Ludes Dilalap Api di Tamansari Tasikmalaya, Kerugian Ditaksir Rp500 Juta
Ade mengingatkan pihak yang menggelar kegiatan agar menyampaikan tujuan dan rangkaian kegiatan secara jelas kepada peserta.
“Kalau panitia formal biasanya menyampaikan rundown kegiatan yang akan dilaksanakan,” kata Ade.
Ia juga meminta agar informasi yang belum lengkap tidak disampaikan secara luas, terutama ketika berkaitan dengan persoalan pribadi seperti pengobatan keluarga.
Ketua FKUB Kota Tasikmalaya H. Abun Sulaeman berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui forum tabayun dan tidak kembali berkembang menjadi konflik di masyarakat.
Ia menilai peristiwa tersebut diawali miskomunikasi antarpihak.
Menurutnya, masyarakat harus tetap menghormati agama lain, tetapi penghormatan tersebut tidak boleh dilakukan dengan adanya unsur keterpaksaan.
“Semoga kejadian ini cukup sampai di sini,” tuturnya.
Dari hasil pertemuan, para pihak sepakat untuk mengedepankan komunikasi dan menjaga kondusivitas wilayah.
Polres Tasikmalaya Kota bersama Kesbangpol, MUI, FKUB, serta tokoh masyarakat akan melakukan pemantauan dan mengambil langkah apabila isu tersebut kembali berkembang.
