TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Derasnya arus informasi di era digital dinilai perlu diimbangi dengan sikap kritis masyarakat.
Pasalnya, hoaks, propaganda hingga ujaran kebencian masih menjadi “bumbu” yang rawan memanaskan suasana di tengah dinamika sosial dan politik.
Sekretaris Daerah Generasi Muda NU Kota Tasikmalaya, Deden Faiz Taptajani, S.Sos, mengajak seluruh lapisan masyarakat dan pimpinan organisasi memperkuat komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan serta kecintaan terhadap Tanah Air.
Baca Juga:Dua Rumah Ludes Dilalap Api di Tamansari Tasikmalaya, Kerugian Ditaksir Rp500 JutaDua Rumah di Gobras Tamansari Tasikmalaya Kebakaran, Diduga Akibat Korsleting Listrik
Pernyataan itu disampaikan Deden, Kamis (27/8/2026), menyikapi pesatnya penyebaran informasi sekaligus dinamika isu publik yang berkembang di sejumlah daerah, termasuk Kota Pati.
Menurutnya, keterbukaan informasi harus diikuti dengan kecermatan. Masyarakat tidak cukup hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga perlu memiliki kemampuan menyaring sebelum ikut menyebarkannya.
“Di tengah keterbukaan informasi, kita dituntut untuk lebih bijak dan memiliki saring sebelum membagikan setiap berita yang diterima,” kata Deden.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang beredar di media sosial sebelum memastikan kebenarannya.
Verifikasi fakta dinilai penting untuk mencegah masyarakat terseret propaganda maupun ujaran kebencian yang berpotensi memecah belah.
Deden juga menyoroti pentingnya etika dalam menyampaikan aspirasi. Menurutnya, hak menyampaikan pendapat di muka umum memang dijamin undang-undang.
Namun, kebebasan tersebut tetap memiliki koridor hukum dan semestinya dijalankan secara damai serta santun.
Baca Juga:Kredit Tumbuh 3,26 Persen, NPL Priangan Timur Mendekati Batas 5 PersenPerjalanan SMPN 2 Tasikmalaya Membuat Sekolah Aman, Anak Nyaman!Â
“Penyampaian aspirasi hendaknya tetap bertumpu pada aturan main dan koridor hukum yang berlaku,” ujarnya.
Khusus di Kota Tasikmalaya yang dikenal sebagai Kota Santri, Deden menilai budaya luhur, adab dan kesantunan harus menjadi pijakan dalam menyampaikan pendapat.
Jangan sampai kebebasan berpendapat justru kehilangan rem hanya karena terpancing isu yang belum jelas ujung pangkalnya.
Ia mendorong masyarakat Tasikmalaya menjaga kondusivitas daerah dengan mengedepankan nilai kesantrian dan kearifan lokal.
Dialog konstruktif, kata dia, harus ditempatkan di atas kepentingan kelompok.
“Menjaga persatuan bangsa harus menjadi prioritas demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” katanya.
Deden berharap momentum bulan kemerdekaan yang diwarnai sukacita dan rasa syukur tidak justru dikotori oleh provokasi serta informasi yang belum teruji kebenarannya.
