TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Dugaan pemurtadan yang sempat menjadi perhatian di Kota Tasikmalaya kini disebut telah diklarifikasi.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Tasikmalaya, Ade Hendar, menegaskan tidak ditemukan bukti adanya ajakan kepada warga untuk berpindah agama dalam kegiatan yang sebelumnya disebut sebagai agenda healing.
Menurut Ade, persoalan tersebut bermula dari informasi yang penyebarannya berkembang dari satu orang ke orang lain.
Baca Juga:Warga Tasikmalaya Diminta Tak Gampang Terprovokasi Hoaks, Aspirasi Tetap Harus BeradabDua Rumah Ludes Dilalap Api di Tamansari Tasikmalaya, Kerugian Ditaksir Rp500 Juta
Informasi awal yang diterima masyarakat kemudian mengalami perubahan ketika disampaikan kembali.
“Dari mulut ke mulut, tidak satu sumber awalnya,” kata Ade kepada Radar, Kamis (27/8/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan pembahasan yang dilakukan bersama pihak terkait, kegiatan tersebut pada awalnya berkaitan dengan ajakan berobat.
Ada warga yang memiliki anak sakit dan hendak menjalani pengobatan di wilayah Jakarta. Dalam prosesnya, sejumlah orang kemudian diajak untuk ikut.
“Punya anak sakit. Kakaknya di Jakarta Utara (tinggal di tempat ibadah, Red), di sana berobat. Kemudian yang bersangkutan mengajak (warga lainnya),” ujarnya.
Namun, dalam penyebaran informasi berikutnya, kegiatan tersebut lebih dikenal dengan istilah healing.
Menurut Ade, perubahan informasi itu kemudian membuat konteks awal kegiatan menjadi kabur.
Baca Juga:Dua Rumah di Gobras Tamansari Tasikmalaya Kebakaran, Diduga Akibat Korsleting ListrikKredit Tumbuh 3,26 Persen, NPL Priangan Timur Mendekati Batas 5 Persen
Informasi yang diterima oleh orang berikutnya disampaikan kembali dengan persepsi masing-masing.
Ibarat pesan berantai, semakin jauh berjalan, semakin banyak pula kemungkinan bumbu yang ikut menempel.
Ade memastikan, berdasarkan klarifikasi yang dilakukan, tidak ada kegiatan yang mengarahkan peserta untuk berpindah agama.
“Tidak ada,” tegasnya ketika ditanya mengenai dugaan ajakan pindah agama.
Ia juga menyebut terdapat informasi bahwa suami dari salah satu pihak yang terlibat justru sedang belajar masuk Islam.
“Justru suaminya juga ingin sedang belajar masuk Islam,” katanya.
Menurut Ade, informasi yang beredar tersebut kemudian diklarifikasi dalam pertemuan yang digelar di Mapolres Tasikmalaya Kota sekitar akhir Juli 2026.
Pertemuan itu melibatkan sejumlah pihak, termasuk DKM, ibu-ibu yang berkaitan dengan persoalan tersebut, pihak yang bersangkutan, penerima informasi awal, hingga Ketua MUI.
“Untuk meng-clear-kan semuanya,” tambah Ade.
