CIAMIS, RADARTASIK.ID — Penanganan anak tidak sekolah (ATS) di Kabupaten Ciamis mulai diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Polres Ciamis bersama Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Ciamis berkomitmen memperluas penanganan hingga tingkat kecamatan dan desa dengan melibatkan kapolsek serta personel Bhabinkamtibmas.
Komitmen tersebut disampaikan dalam pertemuan Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Ciamis, Mochamad Isa Nuralamsyah, dengan Kapolres Ciamis, AKBP Eko Iskandar SH SIK MSi, di Mapolres Ciamis, Sabtu (15/8/2026).
Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Ciamis, Mochamad Isa Nuralamsyah menjelaskan, Pemuda Muhammadiyah saat ini menjalankan gerakan penanganan ATS melalui pendataan, verifikasi kondisi faktual, pendekatan kepada keluarga, pendampingan, serta upaya menghubungkan kembali setiap anak dengan layanan pendidikan yang paling sesuai.
Baca Juga:DEEP Indonesia: Pernyataan Presiden soal Tambang Ilegal Harus Jadi Momentum Evaluasi TNI-PolriKepala Dinas PMD Baru Dilantik, Bupati Tasikmalaya Minta Pembangunan Desa Berbasis Potensi Lokal
Menurut Isa, persoalan ATS tidak cukup diselesaikan dengan memperbaiki data atau sekadar mengembalikan anak ke sekolah. Penanganannya harus mampu memulihkan akses pendidikan sekaligus membuka jalan menuju keterampilan, kemandirian, dan masa depan yang lebih baik.
“Anak tidak sekolah jangan hanya dipandang sebagai angka atau persoalan administratif. Mereka adalah potensi besar yang harus ditemukan kembali, didampingi, serta dihubungkan dengan akses pendidikan, keterampilan, dan peluang ekonomi sesuai kondisi dan potensi wilayahnya,” ujarnya kepada Radar, Senin (17/8/2026).
Ia menegaskan, anak-anak tersebut bukan beban pembangunan, melainkan sumber daya manusia yang berpotensi menjadi penggerak pembangunan apabila memperoleh intervensi yang tepat.
Karena itu, keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah anak yang kembali tercatat sebagai peserta didik. Lebih jauh, keberhasilan harus dilihat dari keberlanjutan proses belajar dan kemampuan anak membangun masa depan secara mandiri.
Setiap wilayah di Kabupaten Ciamis, lanjut Isa, memiliki karakter dan potensi ekonomi yang berbeda, mulai dari pertanian, peternakan, perdagangan, ekonomi kreatif, pariwisata hingga sektor jasa. Kondisi tersebut perlu menjadi dasar dalam menentukan jalur pendidikan, pelatihan keterampilan, serta pola pendampingan bagi anak.
“Orientasi akhirnya bukan sekadar anak kembali belajar, tetapi bagaimana mereka tumbuh menjadi generasi mandiri, produktif, dan mampu mengambil bagian dalam pembangunan wilayahnya. Penanganan ATS harus terkoneksi dari tingkat kabupaten, kecamatan, desa, hingga keluarga,” tegasnya.
