Bukan semata karena pekerjaan. Ada pengabdian yang perlahan berubah menjadi bagian dari hidup.
Dan di balik rasa haru mengikuti Ngaruat Simbol Negara, terselip satu harapan sederhana: agar rekan-rekan PPPK paruh waktu juga mendapatkan kesempatan menjadi PPPK penuh waktu.
“Saya ingin teman-teman PPPK paruh waktu bisa menjadi PPPK penuh waktu,” katanya.
Baca Juga:Padel Jadi Ladang PAD Baru, Bapenda Kota Tasikmalaya Sudah Tetapkan 14 Wajib PajakDi Tengah Gempuran Gadget, Dalang Cilik 4 Tahun dari Jamanis Tasikmalaya Pilih Wayang Golek!Â
Ia juga berharap Indonesia ke depan menjadi negara yang semakin maju, sejahtera, aman dan tenteram.
“Arti kemerdekaan bagi kami, ingin bangsa ini lebih maju dan sejahtera, aman, tenteram sesuai dengan perjuangan para pahlawan dulu. Tetap menjaga marwah para pejuang,” ujarnya.
Prosesi mencuci Merah Putih itu akhirnya menjadi semacam cermin bagi Dian.
Hampir 20 tahun berada di RSUD dr Soekardjo membuatnya memahami bahwa perjuangan tidak selalu berlangsung di medan perang.
Perjuangan juga berlangsung di ruang perawatan.
Saat perawat membantu pasien yang kesakitan. Ketika tenaga kesehatan bekerja melewati jam kerja. Ketika keluarga pasien membutuhkan penjelasan. Ketika seorang pasien berharap mendapatkan pelayanan terbaik.
Di ruang-ruang itulah, menurut Dian, kemerdekaan menemukan bentuknya yang lebih nyata.
“Kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga berarti memiliki kesempatan untuk mengabdi, bekerja, membantu orang lain dan menjaga kehidupan sesama,” terangnya.
Baca Juga:Parkir Digital Wajib Mendongkrak PAD Kota Tasikmalaya, Viman Minta Sistem Tak Sekadar DiluncurkanPolisi di Tasikmalaya Gencarkan Patroli hingga Subuh, Geng Motor Jadi Incaran Utama
Pesan itulah yang seolah terbawa bersama kain Merah Putih setelah prosesi pencucian selesai.
Bendera mungkin kembali dikibarkan. Air kembali mengering. Kegiatan pun berakhir.
Tetapi bagi Dian, ada sesuatu yang tidak ikut selesai: pengabdian.
Ketua Pelaksana Ngaruat Simbol Negara, Sandy Susanti, mengatakan kegiatan tersebut memang dirancang agar peringatan kemerdekaan tidak berhenti pada seremoni.
“Kami ingin mengajak masyarakat memaknai kemerdekaan dengan cara yang sederhana tetapi memiliki nilai. Mencuci Merah Putih ini merupakan simbol bagaimana kita merawat, menghormati dan menjaga simbol negara sekaligus menjaga semangat perjuangan para pendahulu,” pungkas Sandy.
Dan pagi itu, Dian tidak hanya mencuci bendera.
Ia seperti sedang membersihkan kembali ingatan tentang arti perjuangan—bahwa di negeri yang telah merdeka, masih ada bentuk perjuangan yang berlangsung setiap hari.
