Hampir 20 Tahun Jadi Perawat di Tasikmalaya, Dian Temukan Makna Kemerdekaan Saat Mencuci Merah Putih

makna kemerdekaan bagi perawat
Perawat pelaksana RSUD dr Soekardjo Kota Tasikmalaya, Dian Budiman bersama rekan-rekannya saat Ngaruat Simbol Negara di RW 01 Cintarasa, Senin (17/8/2026). istimewa for radartasik.id
0 Komentar

Pengangkatan sebagai PPPK paruh waktu tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Dian. Setelah bertahun-tahun mengabdi, akhirnya ada pengakuan terhadap perjalanan yang telah ia jalani.

Tetapi pengakuan itu belum sepenuhnya menjadi akhir cerita.

Dian masih menyimpan harapan agar dirinya dan rekan-rekan sesama PPPK paruh waktu memperoleh kesempatan menjadi PPPK penuh waktu.

“Buat kami ada bangga karena diakui, meski belum ada yang pasti keberlanjutannya. Tapi minimal diakui secara kepegawaian nasional,” katanya.

Baca Juga:Padel Jadi Ladang PAD Baru, Bapenda Kota Tasikmalaya Sudah Tetapkan 14 Wajib PajakDi Tengah Gempuran Gadget, Dalang Cilik 4 Tahun dari Jamanis Tasikmalaya Pilih Wayang Golek! 

Di sinilah cerita Dian menjadi lebih dari sekadar kisah seorang perawat yang mengikuti prosesi pencucian bendera.

Ia sedang berbicara tentang penghargaan terhadap waktu.

Sebab bagi para tenaga kesehatan yang telah bertahun-tahun mengabdi, status kepegawaian bukan hanya persoalan administrasi. Di dalamnya ada harapan tentang kepastian, penghargaan terhadap kesetiaan dan masa depan setelah bertahun-tahun berada di garis pelayanan publik.

“Kalau pengabdian, sejak kami dari sukwan juga sudah tertanam sesuai dengan sumpah kami,” ujarnya.

Kalimat itu seperti menyimpan sindiran yang tidak perlu disampaikan dengan suara keras: pengabdian tidak lahir bersamaan dengan surat keputusan kepegawaian.

Dian kemudian kembali pada makna kemerdekaan.

Baginya, kemerdekaan bukan sesuatu yang harus selalu dijelaskan dengan istilah besar. Kemerdekaan bisa hadir dalam kesempatan seseorang untuk bekerja, mengabdi dan membantu orang lain.

Sebagai perawat, ia memilih mengisinya dengan memberikan pelayanan terbaik kepada pasien.

“Prinsip utama, tetap sebagai tenaga kesehatan yang sudah dipegang dengan janji dan sumpah profesi kami. Apa pun itu kami tetap harus memberikan pelayanan yang terbaik buat masyarakat Indonesia, khususnya warga Kota Tasikmalaya,” katanya.

Baca Juga:Parkir Digital Wajib Mendongkrak PAD Kota Tasikmalaya, Viman Minta Sistem Tak Sekadar DiluncurkanPolisi di Tasikmalaya Gencarkan Patroli hingga Subuh, Geng Motor Jadi Incaran Utama

Dian mengakui, pekerjaan tenaga kesehatan memiliki beban dan tanggung jawab besar. Penghargaan secara materi, menurutnya, belum selalu sebanding dengan tanggung jawab tersebut.

Namun ada kebanggaan lain yang tidak mudah dihitung.

“Melayani masyarakat harus menjadi jati diri sebagai tenaga kesehatan. Itu menjadi kebanggaan yang sangat mulia, meski kalau diukur dari segi materi belum sebanding,” ujarnya.

Karena itulah, ketika mencuci Merah Putih, Dian merasa sedang kembali mengingat alasan mengapa ia bertahan hampir 20 tahun.

0 Komentar