Hampir 20 Tahun Jadi Perawat di Tasikmalaya, Dian Temukan Makna Kemerdekaan Saat Mencuci Merah Putih

makna kemerdekaan bagi perawat
Perawat pelaksana RSUD dr Soekardjo Kota Tasikmalaya, Dian Budiman bersama rekan-rekannya saat Ngaruat Simbol Negara di RW 01 Cintarasa, Senin (17/8/2026). istimewa for radartasik.id
0 Komentar

Hampir dua dekade setelah pertama kali mengenakan atribut sebagai tenaga kesehatan di rumah sakit tersebut, Dian akhirnya diangkat menjadi PPPK paruh waktu pada 2025.

Empat fase kepegawaian itu dilalui dalam rentang hampir 20 tahun. Sebuah perjalanan yang menunjukkan bahwa pengabdian kadang datang jauh lebih dulu daripada kepastian administrasi.

Bagi Dian, perjalanan itu bukan tanpa liku. Ketidakpastian status, keterbatasan penghasilan hingga berbagai persoalan selama bekerja menjadi bagian dari perjalanan panjangnya.

Namun ia memilih bertahan.

Baca Juga:Padel Jadi Ladang PAD Baru, Bapenda Kota Tasikmalaya Sudah Tetapkan 14 Wajib PajakDi Tengah Gempuran Gadget, Dalang Cilik 4 Tahun dari Jamanis Tasikmalaya Pilih Wayang Golek! 

Dukungan orang tua dan rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan menjadi alasan Dian terus menjalani profesinya.

“Dengan penuh liku-liku, namun harus tetap ikhlas. Dorongan orang tua dan pengabdian yang sudah harus menjadi jati diri sebagai pelayan masyarakat,” katanya.

Di titik itu, Dian seperti menemukan satu ironi sederhana: status pekerjaan bisa berganti, tetapi kewajiban melayani tidak ikut berganti.

Selama hampir dua puluh tahun bekerja, Dian melihat berbagai wajah pelayanan kesehatan. Pasien datang dalam kondisi sakit, keluarga menunggu dengan cemas, sementara harapan untuk sembuh menjadi alasan semua orang bertahan.

Di ruang-ruang perawatan itulah Dian memahami pengabdian secara lebih konkret.

Menurut dia, menjadi tenaga kesehatan bukan sekadar pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan. Ada tanggung jawab moral yang melekat bersama sumpah profesi.

Karena itu, perubahan status kepegawaian tidak mengubah prinsip yang ia pegang.

“Kami harus terus berjuang karena perjuangan kami adalah pengabdian kepada warga yang sedang dirawat. Itu sudah menjadi tugas dan janji profesi kami,” ujarnya.

Baca Juga:Parkir Digital Wajib Mendongkrak PAD Kota Tasikmalaya, Viman Minta Sistem Tak Sekadar DiluncurkanPolisi di Tasikmalaya Gencarkan Patroli hingga Subuh, Geng Motor Jadi Incaran Utama

Dian juga memegang prinsip silih asah, silih asih, silih asuh dalam memberikan pelayanan.

Baginya, pasien bukan sekadar nama dalam administrasi atau nomor antrean. Mereka adalah manusia yang sedang membutuhkan pertolongan, perhatian dan kepedulian.

“Harus ada saling silih asah, silih asuh dan silih asih. Makanya harus terus ditingkatkan lagi pelayanan dari segi apa pun,” katanya.

Ia berharap pelayanan kesehatan terus diperbaiki, bukan hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari sisi kemanusiaan.

Sebab di balik satu pasien yang dirawat, selalu ada keluarga yang menunggu. Ada kecemasan, doa dan harapan yang tidak tercatat dalam lembar administrasi rumah sakit.

0 Komentar