TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Air mengalir perlahan membasahi kain Merah Putih yang berada di tangan Dian Budiman.
Perawat pelaksana RSUD dr Soekardjo Kota Tasikmalaya itu mencucinya dengan hati-hati.
Tidak tergesa, seolah setiap helai kain yang disentuhnya membawa cerita panjang tentang pengabdian.
Sesekali pandangannya tertuju pada bendera yang sedang dibersihkan.
Baca Juga:Padel Jadi Ladang PAD Baru, Bapenda Kota Tasikmalaya Sudah Tetapkan 14 Wajib PajakDi Tengah Gempuran Gadget, Dalang Cilik 4 Tahun dari Jamanis Tasikmalaya Pilih Wayang Golek!Â
Bagi Dian, mencuci Merah Putih pada momentum kemerdekaan bukan sekadar rangkaian kegiatan.
Di balik kain yang basah itu, terselip ingatan tentang hampir dua dekade hidupnya sebagai tenaga kesehatan.
Tentang bertahan di tengah perubahan status kepegawaian, ketidakpastian, hingga akhirnya mendapat pengakuan sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu pada 2025.
Dian menjadi satu dari delapan perwakilan RSUD dr Soekardjo yang mengikuti kegiatan Ngaruat Simbol Negara di RW 01 Cintarasa, Senin (17/8/2026).
Total ada 81 peserta dari berbagai elemen masyarakat Kota Tasikmalaya yang ikut dalam prosesi pencucian Bendera Merah Putih tersebut.
Ketika tangannya menyentuh kain Merah Putih, ada rasa haru yang sulit disembunyikan.
“Sangat terharu,” kata Dian kepada wartawan.
Bagi Dian, Merah Putih bukan sekadar bendera yang kembali berkibar setiap Agustus.
Baca Juga:Parkir Digital Wajib Mendongkrak PAD Kota Tasikmalaya, Viman Minta Sistem Tak Sekadar DiluncurkanPolisi di Tasikmalaya Gencarkan Patroli hingga Subuh, Geng Motor Jadi Incaran Utama
Ia adalah simbol jati diri bangsa sekaligus pengingat bahwa kemerdekaan lahir dari pengorbanan panjang para pendahulu.
“Sebagai simbol jati diri negara kita, ini sangat berarti. Asli, baru pertama kali kami mengikuti kegiatan ini dan kami sangat terharu,” terangnya.
Namun, bagi perempuan yang hampir 20 tahun mengabdi sebagai tenaga kesehatan itu, perjuangan tidak berhenti pada cerita para pahlawan.
Ada medan perjuangan lain yang ia kenal setiap hari: ruang perawatan rumah sakit.
Jika dahulu para pejuang mempertaruhkan nyawa di medan perang,
Dian melihat tenaga kesehatan memiliki bentuk perjuangan sendiri. Bukan dengan senjata, melainkan dengan waktu, tenaga, pengetahuan dan kepedulian untuk merawat manusia.
Perjalanan Dian di RSUD dr. Soekardjo dimulai pada Februari 2006. Saat itu ia masuk sebagai tenaga sukarelawan atau sukwan.
Setahun kemudian, pada 2007, statusnya berubah menjadi Pegawai Harian Lepas (PHL) dan mulai memperoleh penghasilan. Perjalanan itu berlanjut pada 2013 ketika ia diangkat sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT).
