TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Dua ruang kelas di SMPN 1 Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya, ambruk pada Senin (27/7/2026). Hal itu diakibatkan kondisi bangunan yang telah lapuk dan tidak pernah mendapatkan perbaikan menyeluruh selama beberapa tahun terakhir.
Bangunan yang ambruk merupakan dua ruang kelas yang sudah lama dikosongkan karena dinilai tidak layak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Kondisi bangunan yang terus dibiarkan akhirnya menyebabkan atap dan struktur bangunan roboh.
Tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa tersebut karena ruang kelas yang ambruk memang sudah tidak difungsikan. Namun, ambruknya bangunan berdampak pada dua ruangan lain yang masih berada dalam satu rangkaian bangunan, yakni ruang kesenian dan ruang IT.
Baca Juga:Langkah Berani Asep Muslim: Tolak Baju Adat Baru, Dorong Efisiensi Anggaran DPRD TasikmalayaUlama dan Ormas Islam Datangi DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Ajukan Naskah Akademik Raperda Ketahanan Keluarga
Ketua Komite SMPN 1 Bantarkalong, Abah Unang, membenarkan dua ruang kelas tersebut ambruk pada Senin (27/7/2026).
Menurut Unang, dua bangunan ruang kelas tersebut memang sudah lama tidak digunakan untuk pembelajaran karena kondisinya sudah lapuk dan tidak layak pakai.
“Iya yang ambruk itu dua ruang kelas yang sudah beberapa tahun tidak digunakan untuk proses belajar siswa. Karena dibiarkan lama tidak diperbaiki akhirnya ambruk dan merembet ke ruang kesenian dan ruang IT,” ungkap Unang.
Ia menjelaskan, kerusakan pada dua ruang kelas tersebut tergolong total, mulai dari atap hingga pondasi tembok. Sementara itu, ruang kesenian dan ruang IT mengalami kerusakan pada bagian atap dan tembok sehingga kini juga terancam roboh.
“Jadi kalau tidak segera diperbaiki akan merembet ke ruang kesenian dan IT, dikhawatirkan akan ikut ambruk. Jadi dua ruang kelas ambruk, dua ruang lagi kesenian dan IT terancam ambruk,” terang dia.
Unang menuturkan, dua ruang kelas yang kini ambruk sebelumnya pernah direhabilitasi secara swadaya oleh komite sekolah bersama orang tua siswa sekitar tahun 2010–2011. Namun, perbaikan tersebut hanya bersifat terbatas sehingga tidak mampu memperpanjang usia bangunan.
“Namun karena seadanya dari swadaya komite dan orang tua siswa, ruang kelas tersebut tetap ambruk. Jadi karena kekurangan kelas, maka proses pembelajaran siswa diatur ada beberapa ruang darurat,” kata dia.
