TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Industri kopi di Kabupaten Tasikmalaya terus menunjukkan geliat. Bukan hanya produksi yang tetap berjalan di sejumlah sentra, nilai jual green bean juga ikut terdongkrak.
Di sisi lain, pasar konsumsi lokal tumbuh seiring menjamurnya kedai kopi, sementara peluang ekspor mulai terbuka meski pasokan masih menjadi pekerjaan rumah.
Ketua Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI) Kabupaten Tasikmalaya Rahmat Egin mengatakan, perkembangan komoditas kopi di daerah tersebut ditopang dua jenis utama, yakni arabika dan robusta.
Baca Juga:Tasik Muslim Fair 2026 Bidik Transaksi Rp10 Miliar, Viman Dorong UMKM Naik KelasRekonstruksi Kasus Pengeroyokan Remaja di Tasikmalaya! 4 Tersangka Peragakan 16 Adegan, Terancam 7 Tahun
Keduanya tumbuh di wilayah dengan karakter geografis berbeda. Kopi arabika banyak dibudidayakan di kawasan pegunungan, sedangkan robusta berkembang di daerah dengan ketinggian yang relatif lebih rendah.
Untuk arabika, produksi saat ini mencapai sekitar 500 ton dalam satu kali panen dari lahan seluas 1.200 hektare.
Perkebunannya tersebar di lima kawasan, yakni Cakrabuana, Karaha, Galunggung, Gunung Raja Cigalontong dan Taraju.
Dari sentra-sentra tersebut lahir Kopi Arabika Java Sukapura yang telah mengantongi sertifikat Indikasi Geografis (IG).
Sertifikasi itu menjadi penanda bahwa karakter dan kualitas kopi berkaitan erat dengan wilayah geografis tempat komoditas tersebut dibudidayakan.
Rahmat mengatakan, cita rasa Kopi Arabika Java Sukapura tidak muncul begitu saja.
Ada sejumlah faktor yang memengaruhinya, mulai dari teknik budidaya, ketinggian, topografi, kondisi tanah hingga proses pascapanen.
Baca Juga:Cerita Hidup Bupati Herdiat!APBD Perubahan Diketok ketika Pendapatan Kota Tasikmalaya Masih Anjlok
“Yang mempengaruhi cita rasa itu budidaya, kemudian ketinggian dan topografi dan juga tanah. Itu faktor penentu dan yang terakhir itu proses,” kata Rahmat.
Sementara kopi robusta berkembang di sejumlah wilayah, di antaranya Karangnunggal, Cibalong dan Parungponteng. Produksinya mencapai sekitar 100 ton dalam satu kali panen.
Kopi dari sejumlah sentra tersebut tak hanya mengalir ke pasar luar daerah. Konsumsi di wilayah Tasikmalaya sendiri mulai menjadi ceruk pasar yang menjanjikan.
Rahmat menyebut kebutuhan kopi di Kota Tasikmalaya saat ini mencapai lebih dari lima ton per tahun. Angka tersebut ikut terdorong pertumbuhan jumlah penikmat kopi serta semakin masifnya pertumbuhan coffee shop.
Besarnya potensi pasar tersebut membuat bisnis kopi tak lagi sekadar soal minuman, tetapi telah menjadi rantai ekonomi yang melibatkan petani, pengolah, pedagang hingga pelaku usaha kedai.
