“Kita hitung kalau misalnya 800 kafe, satu bulannya satu kafe 10 kg sudah berapa? 8 kuintal kali sekian. Luar biasa. Ternyata bisnis kopi itu menggiurkan,” ungkapnya.
Konsumsi lokal tersebut berjalan beriringan dengan perluasan pasar. Kopi asal Kabupaten Tasikmalaya saat ini telah dipasarkan ke sejumlah daerah di Pulau Jawa maupun luar Jawa.
Peluang pasar internasional pun mulai dijajaki. Kopi Arabika Java Sukapura disebut pernah diekspor ke Jepang dengan volume kurang dari lima ton melalui eksportir yang berbasis di Bandung.
Baca Juga:Tasik Muslim Fair 2026 Bidik Transaksi Rp10 Miliar, Viman Dorong UMKM Naik KelasRekonstruksi Kasus Pengeroyokan Remaja di Tasikmalaya! 4 Tersangka Peragakan 16 Adegan, Terancam 7 Tahun
Namun, peluang ekspor dalam skala besar masih terbentur persoalan klasik: pasokan. Volume produksi yang tersedia belum mampu memenuhi persyaratan pengiriman dalam jumlah besar.
Rahmat mengatakan, eksportir mensyaratkan volume minimal sekitar 140 ton untuk satu kali pengiriman.
Dengan kapasitas pasokan yang masih terbatas, petani dan pelaku usaha kopi Tasikmalaya belum leluasa memenuhi kebutuhan tersebut.
“Karena eksportir minimal 1 pit itu 140 ton. Ya, kalau gitu enggak bisa. Jadi kendalanya sebenarnya sementara ini kami hanya memasok untuk lokal,” tuturnya.
Meski demikian, peluang pasar luar negeri belum ditutup. Selain Jepang, penjajakan pasar Kopi Arabika Java Sukapura saat ini juga dilakukan dengan pihak dari Turki dan Brasil.
Di tengah peluang pasar yang semakin terbuka, harga di tingkat perdagangan juga menunjukkan pergerakan positif.
Rahmat menyebut harga green bean yang sebelumnya berada di kisaran Rp110.000 per kilogram kini rata-rata telah mencapai Rp170.000 per kilogram.
Baca Juga:Cerita Hidup Bupati Herdiat!APBD Perubahan Diketok ketika Pendapatan Kota Tasikmalaya Masih Anjlok
Kenaikan harga tersebut menjadi sinyal bahwa kopi Tasikmalaya memiliki nilai ekonomi yang terus berkembang.
Namun, jika ingin naik kelas dari pasar lokal menuju pasar ekspor dalam skala lebih besar, peningkatan produksi dan konsistensi pasokan menjadi tantangan yang tak bisa dihindari.
Dengan kata lain, pasar sudah mulai membuka pintu. Tinggal memastikan kebun dan pasokan mampu mengetuknya dalam jumlah yang cukup. (fitriah widayanti)
