TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Langit Parungponten tak lagi menyiramkan hujan selama lebih kurang empat bulan. Kampung Cilintung, salah satu kampung di Desa Parungponteng, Kabupaten Tasikmalaya, perlahan berubah warna.
Tanah-tanah pekarangan banyak di antaranya mulai merekah. Debu tipis menutupi dedaunan kering. Jalan menuju kampung juga mulai berdebu. Begitu juga sumur di rumah-rumah warga tak ada lagi gemericik air.Bagi warga Kampung Cilintung, Desa Parungponten, Kabupaten Tasikmalaya, musim kemarau panjang bukan sekadar perubahan cuaca. Tetapi warga diuji fisik dan kesabaran harian.
Setiap kali kemarau melampaui ambang empat bulan, rasa risau kian menyergap pikiran warga. Ini karena sulit mendapatkan sumber air, apalagi untuk air bersih. Tak heran jika kini warga menanti awan hitam demi setetes air.Air bersih yang menjadi urat nadi kehidupan perlahan lenyap dari sumur-sumur galian mereka. Perjalanan 400 Meter demi mendapatkan satu jeriken air, menjadi tantangan tiap hari.
Baca Juga:Khawatir Mengancam Kondusivitas, MUI Pangandaran Cermati Beredarnya Isu Sara Agama di MuskerdaOmset Pedagang Tradisional Pangandaran Menurun, Tergerus Pasar Digital
Radar Tasikmalaya saat tiba di Kampung Cilintung, sinar matahari pagi belum terlalu terik. Namun aktivitas warga sudah riuh. Bukan canda tawa biasa, melainkan bunyi ember dan jeriken plastik yang saling berbenturan. Warga berduyun-duyun menuju sumber air di Kampung Cipacing yang jaraknya lebih dari 400 meter.
Di kampung tetangga itu sumber airnya masih bertahan.”Jangankan kemarau lebih dari empat bulan. Saat hujan saja, untuk air bersih sangat sulit didapat,” ungkap Asep Mustofa, salah satu tokoh warga setempat saat ditemui radar tasikmalaya di rumahnya belum lama ini.Desa Parungponteng memiliki topografi berbukit serta lembah. Kampung Cilintung sendiri berada di bukit.
“Di kampung kami ini tidak ada sungai atau aliran air. Atau bahkan sama sekali tidak ada irigasi. Risikonya begini. Kalau kemarau pasti kerepotan sumber air,” timpal pria yang juga sebagai ustadz itu. Sebetulnya, sambung Asep, ada sumur galian yang dibuat secara swadaya. Tetapi saat kemarau tiba, debit air di sumur tersebut tak mencukupi kebutuhan harian warga.
”Kampung kami ini terdiri dari 60 KK (kepala keluarga, red). Jangankan untuk 60 KK untuk 30 KK saja repot,” kata dia.
