Porsadin Kota Tasikmalaya Tambah Cabang Akademik, Ratusan Santri Berebut Tiket ke Jabar

porsadin kota tasikmalaya
Salah satu Tim Porsadin saat pemberngkatan. (ist)
0 Komentar

TASIK, RADSIK – Ajang Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah (Porsadin) tidak lagi hanya menjadi wadah unjuk kemampuan di bidang seni dan olahraga. Berbagai cabang akademik kini turut dipertandingkan sebagai upaya memberikan ruang yang lebih luas bagi santri Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) untuk mengembangkan potensi.

Perubahan tersebut menjadi salah satu fokus dalam pelaksanaan seleksi Porsadin tingkat Kota Tasikmalaya yang digelar Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kota Tasikmalaya di Kampus STIA Tasikmalaya, Sabtu (25/7/2026).

Ratusan santri dari perwakilan kecamatan mengikuti seleksi untuk memperebutkan kesempatan tampil di tingkat Jawa Barat.

Baca Juga:Dari Hari Jadi Menuju Hari Depan: Mewujudkan Kabupaten Tasikmalaya yang Maju dan SejahteraSulalatul Huda dan Sebelas Penjaga Amanah!

Ketua FKDT Kota Tasikmalaya, Drs H Ahmad Syafei MPd, mengatakan, pelaksanaan tingkat kota tahun ini menjadi momentum menjaring peserta terbaik yang akan mewakili Kota Tasikmalaya pada Porsadin Jawa Barat di Cianjur.

“Alhamdulillah yang pada intinya kita mencari bibit-bibit terbaik putra putri dari Kota Tasikmalaya untuk Porsadin ke tingkat Jawa Barat nanti tanggal 23, 24, 25 Oktober itu akan tingkat provinsi Jawa Barat,” ucapnya.

Ahmad menambahkan, Porsadin tingkat Kota Tasikmalaya tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ke-11. Selama lebih dari satu dekade, ajang tersebut menjadi sarana bagi FKDT untuk menjaring santri berprestasi yang nantinya dipersiapkan mewakili Kota Tasikmalaya pada Porsadin tingkat Jawa Barat.

Karena itu, menurut Ahmad, proses seleksi dilakukan melalui berbagai cabang perlombaan yang disesuaikan dengan kemampuan para santri.

Cabang yang diperlombakan tidak hanya mencakup bidang seni, tetapi juga akademik dan olahraga. Pada kategori seni, peserta berkompetisi dalam seni terbang, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), kaligrafi kontemporer, qasidah modern, serta pidato bahasa Arab.

Sementara pada bidang akademik terdapat lomba baca Kitab Safinah, cerdas cermat keagamaan tujuh mata pelajaran, murottal wal imla, puisi Islami, pidato bahasa Indonesia dan bahasa Arab, serta Mars DTA. Adapun cabang olahraga yang dipertandingkan meliputi tenis meja dan lari sprint.

Ahmad menilai keberadaan cabang akademik tersebut menjadi pembeda dibanding penyelenggaraan sebelumnya yang lebih banyak berfokus pada olahraga dan seni. Dengan demikian, santri memiliki kesempatan menunjukkan kemampuan sesuai bidang yang mereka kuasai.

0 Komentar