Cegah DBD dari Sekolah, Poltekkes Tasikmalaya Bentuk Siswa Pemantau Jentik di Sukamahi

Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya cegah DBD
Tim Pengabdian Masyarakat Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya saat menggelar program pengabdian kepada masyarakat di Desa Sukamahi, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya. istimewa for radartasik.id
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Upaya memutus rantai penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) tidak cukup hanya mengandalkan fogging.

Pencegahan harus dimulai dari perubahan perilaku masyarakat, termasuk di lingkungan sekolah.

Berangkat dari semangat itu, Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya menggelar program pengabdian kepada masyarakat di Desa Sukamahi, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya.

Baca Juga:Dibayangi Defisit APBD Rp182 Miliar, Pemkot Tasikmalaya dan DPRD Sepakat Buka Kembali Program PrioritasAsam Nitrat hingga Senjata Disita dari Rumah Eks Napiter, Misteri Ledakan Dadaha Tasikmalaya Makin Terang

Kegiatan yang mengusung tema Edukasi Penggunaan Antijentik Alami serta Pemberdayaan Siswa Pemantau Jentik ini dipimpin Ketua Tim Dr. Imat Rochimat SKM., MM dengan anggota apt. Rani Rubiyanti M.Farm.

Program tersebut menjadi bagian dari transformasi sistem ketahanan kesehatan, khususnya pada aspek pencegahan dan kesiapsiagaan menghadapi penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Dr. Imat Rochimat menjelaskan, kegiatan difokuskan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam mencegah DBD melalui pendekatan promotif dan preventif.

Materi yang diberikan meliputi edukasi mengenai bahaya DBD, faktor risiko penularan, hingga langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan secara mandiri di lingkungan rumah maupun sekolah.

Selain itu, masyarakat juga diperkenalkan dengan pemanfaatan antijentik alami sebagai alternatif larvasida untuk mengendalikan jentik nyamuk Aedes aegypti.

Pendekatan ini diharapkan menjadi solusi ramah lingkungan sekaligus mudah diterapkan oleh masyarakat.

Tak hanya menyasar masyarakat umum, program ini juga memberdayakan siswa sekolah sebagai Siswa Pemantau Jentik.

Baca Juga:Motif Ledakan Dadaha Tasikmalaya Terungkap, Polisi Pastikan Murni Perselisihan Pribadi Bukan Aksi TerorLiterasi Keuangan Tasikmalaya Diperkuat, OJK Bidik 98 Ribu Warga Lewat Agen CAANG

Mereka dibimbing untuk mengenali potensi tempat berkembang biaknya nyamuk sekaligus menjadi agen perubahan dalam menjaga kebersihan lingkungan sekolah.

“Perang melawan DBD tidak bisa hanya mengandalkan obat atau pengasapan. Yang paling ampuh justru memutus habitat nyamuk sejak dini melalui kebiasaan hidup bersih dan kepedulian bersama,” menjadi semangat yang diusung dalam kegiatan tersebut.

Sebanyak 20 peserta mengikuti program ini yang terdiri atas kader masyarakat, guru, dan siswa sekolah di Desa Sukamahi.

Para guru berperan sebagai pendamping siswa, sedangkan kader masyarakat diharapkan menjadi motor penggerak pencegahan DBD di tingkat desa.

Program pengabdian masyarakat ini dirancang berlangsung selama satu tahun agar pendampingan tidak berhenti pada tahap sosialisasi, tetapi berlanjut hingga terbentuk budaya pencegahan DBD secara berkelanjutan.

0 Komentar