Di Balik Panggung Anniversary STC ke-28: Pasukan Tanpa Honor!

Stc
Anggota STC berfoto bersama. (IST)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Acara Anniversary ke-28 Scooter Tasikmalaya Club (STC) sudah selesai. Panggung sudah dibongkar. Lampu-lampu sudah dipadamkan.

Scooterist dari Yogya, Malang, Bali, Semarang, Bekasi, Garut, Bandung dan berbagai kota lainnya sudah kembali ke rumah masing-masing.

Yang tersisa hanya lapangan yang kembali sepi. Dan beberapa orang yang tubuhnya masih terasa remuk.

Baca Juga:Bukan Sekadar Kinclong!Unsil Dorong Teknologi Pengolahan Sampah Rumah Tangga untuk Kurangi Beban ke TPA Ciangir

Biasanya begitulah nasib panitia. Mereka paling sibuk sebelum acara. Mereka paling lelah saat acara. Dan paling cepat dilupakan setelah acara.

Padahal, di balik gegap gempita Anniversary ke-28 STC yang tahun ini disebut banyak pihak sebagai yang paling meriah dan paling gebyar sepanjang sejarah komunitas vespa, ada cerita yang tidak terlihat dari atas panggung.

Cerita tentang orang-orang yang tidak sedang mencari tepuk tangan. Melainkan sedang menjaga mimpi bersama agar tidak runtuh di tengah jalan.

Persiapan acara ini bukan dimulai sebulan lalu. Bukan tiga bulan lalu. Melainkan hampir satu tahun lalu. Satu tahun.

Di zaman sekarang, satu tahun adalah waktu yang cukup untuk berganti pekerjaan, berganti kendaraan, bahkan berganti haluan hidup.

Tetapi bagi pengurus STC, satu tahun digunakan untuk satu tujuan sederhana: membuat tamu yang datang pulang dengan kesan baik.

Tidak mudah. Terutama ketika bicara soal yang paling sensitif dalam organisasi mana pun. Uang.

Baca Juga:Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Edukasi Kesehatan Reproduksi Cegah Kejahatan Seksual di SekolahHonor Tim Rp 552 Juta, Defisit Tembus Rp200 Miliar!

Saya sering mengatakan, banyak organisasi besar hancur bukan karena kekurangan ide. Melainkan karena kekurangan kas. Kas adalah ujian kejujuran. Kas juga ujian persaudaraan.

Di STC, ujian itu datang berkali-kali. Sponsor ada. Dukungan ada. Tetapi kebutuhan acara ternyata jauh lebih besar.

Di titik itulah yang bekerja bukan lagi proposal.

Melainkan solidaritas. Yang bergerak bukan rekening organisasi. Melainkan dompet pribadi. Patungan menjadi kata yang paling sering terdengar.

Ada yang menambah. Ada yang menutup kekurangan. Ada yang diam-diam membantu tanpa ingin disebut.

Karena di STC, hubungan mereka lebih mirip keluarga dibanding organisasi. Kalau ada yang kurang, ditutup bersama. Kalau ada yang berat, dipikul bersama.

Di bawah komando Ketua STC, Enan Suherlan, mesin organisasi terus berjalan. Di lapangan ada sosok yang oleh banyak anggota dijuluki panglima: Mang Ozon.

0 Komentar