Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Edukasi Kesehatan Reproduksi Cegah Kejahatan Seksual di Sekolah

kesehatan reproduksi remaja
Para Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya berfoto bersama para pelajar usai melaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat di SMPN 9 Kota Tasikmalaya, Kamis (18/6/2026). (ist)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Perilaku seksual berisiko pada remaja masih menjadi salah satu tantangan penting dalam pembangunan kesehatan dan pendidikan di Indonesia.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kemudahan akses informasi, remaja menghadapi berbagai peluang sekaligus risiko yang dapat memengaruhi tumbuh kembang mereka.

Sebagai bentuk kontribusi nyata dalam upaya pencegahan tersebut,Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya melaksanakan kewajibannya yaitu Tri Dharma Perguruan Tinggi salah satunya adalah Pengabdian Masyarakat.

Baca Juga:Honor Tim Rp 552 Juta, Defisit Tembus Rp200 Miliar!Defisit yang Direncanakan

Tim Pengabdi terdiri dari tiga dosen yaitu Dr Peni Cahyati SKp MKes, Dr Tetet Kartilah SKp MKes dan Sofia Februanti SKep Ns MKep, dibantu juga tiga mahasiswa dari program studi sarjana terapan dan Pendidikan profesi ners atas nama Rhoby Dwi Putra, Dea Astriani,Sella Syurya Levinawati, dengan memilih SMP Negeri 9 Kota Tasikmalaya sebagai mitra pengabdian Masyarakat, Kamis-Jumat, 18-19 Juni 2026.

Pelaksanaan pada Kamis, 18 juli 2026, Tim Pengadian melakukan edukasi pada pengurus OSIS. Sedangkan, Jumat 19 Juli 2026, pengurus OSIS menyampaikan pada teman-temanya yang lain.

Perwakilan Tim Pengabdian Masyarakat Dr Peni Cahyati SKp MKes menyampaikan masa remaja merupakan periode transisi yang ditandai dengan perubahan fisik, psikologis, dan sosial.

fase ini, remaja cenderung memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, termasuk terkait isu seksualitas. Namun, tanpa pengetahuan yang memadai serta pendampingan yang baik dari keluarga dan lingkungan, kondisi tersebut dapat mendorong munculnya perilaku seksual berisiko.

Berbagai faktor diketahui memengaruhi perilaku seksual remaja, di antaranya usia pubertas, pengawasan orang tua, jenis kelamin, serta tingkat pengetahuan dan sikap terhadap kesehatan reproduksi.

Dari sejumlah faktor tersebut, rendahnya pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi dan lemahnya kontrol atau pendampingan orang tua menjadi faktor yang paling dominan dalam meningkatkan risiko perilaku seksual yang tidak sehat.

“Fenomena ini menjadi semakin kompleks di wilayah perkotaan, seperti di Kota Tasikmalaya. Remaja saat ini memiliki akses yang sangat luas terhadap berbagai informasi melalui internet dan media sosial. Sayangnya, tingginya akses informasi tidak selalu diikuti dengan kemampuan literasi kesehatan yang memadai,”katanya.

0 Komentar