Defisit yang Direncanakan

Anggaran kota tasikmalaya
Gambar ilustrasi: AI
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Defisit itu sebenarnya tidak selalu salah. Bahkan kadang sengaja direncanakan.

Pemerintah pusat melakukannya. Provinsi melakukannya. Kabupaten dan kota juga boleh melakukannya. Asalkan satu syarat terpenuhi.

Masih ada uang untuk menutupinya. Masalahnya bukan pada kata “defisit”.

Baca Juga:Tebak-tebakan, Calon Pemilik Tiga Kursi Dinas di Pemerintah Kota Tasikmalaya!Bertahan Hidup Tanpa Bawang Merah!

Masalahnya ada pada kata “mampu”. Mampu atau tidak menutup defisit itu.

Di Kota Tasikmalaya, cerita itu kini menjadi menarik. Tahun 2024, defisit sudah muncul. Nilainya sekitar Rp25 miliar. Tidak besar.

Masih bisa dianggap lampu kuning. Masih ada waktu untuk mengerem.

Masih ada waktu untuk mengevaluasi. Masih ada waktu untuk menyesuaikan keinginan dengan kemampuan.

Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Mobil yang sudah melihat lampu kuning malah menambah kecepatan. Program bertambah. Kegiatan bertambah. Janji politik bertambah.

Keinginan bertambah. Yang tidak bertambah hanya uangnya. Akhirnya yang membengkak adalah defisitnya.

Kini di Kota Tasikmalaya disebut mencapai sekitar Rp50 miliar. Dua kali lipat. Dalam bahasa sederhana, kalau tahun lalu lubangnya satu meter, sekarang sudah dua meter.

Yang menjadi pertanyaan bukan lagi soal angka. Tetapi soal cara berpikir. Mengapa ketika sudah mengetahui kondisi keuangan sedang tidak sehat, justru semakin banyak program yang dimasukkan?

Baca Juga:Dari Tasikmalaya untuk 2029, Laskar Gerindra yang Tak Akan Berhenti Bergerak!Ibu-Ibu Mulai Bernegosisasi Bawang Merah di Dapur!

Mengapa ketika ruang fiskal menyempit, daftar keinginan justru semakin panjang Bukankah logika rumah tangga mengajarkan hal sederhana? Ketika penghasilan berkurang, belanja dikurangi.

Bukan malah menambah cicilan.

Memang pemerintah berbeda dengan rumah tangga. Pemerintah boleh membuat defisit. Pemerintah boleh membelanjakan lebih besar daripada pendapatannya.

Tetapi semua itu harus memiliki sumber pembiayaan yang jelas. Harus ada uang yang menutupinya. Harus ada perhitungan yang realistis. Bukan sekadar optimisme. Apalagi hanya mengandalkan harapan.

Karena APBD bukan buku mimpi. APBD adalah dokumen angka. Angka tidak mengenal janji politik. Angka hanya mengenal kemampuan membayar. Percuma memiliki visi yang hebat. Percuma memiliki misi yang luar biasa. Percuma memiliki program unggulan yang dipuji di atas panggung. Kalau pada akhirnya uangnya tidak ada.

Karena program yang baik sekalipun akan gagal ketika ditopang oleh perencanaan yang buruk. Ibarat membangun rumah. Gambarnya indah. Desainnya mewah. Arsiteknya hebat. Tetapi uang untuk membeli semen tidak tersedia.

0 Komentar