Ibu-Ibu Mulai Bernegosisasi Bawang Merah di Dapur!

Bawang merah
Ilustrasi: AI
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Bayangkan suasana dapur pagi ini. Seorang ibu berdiri di depan wajan. Di tangannya ada tiga siung bawang merah.

Ia menatapnya lama. Sangat lama. Seolah sedang menghitung saham. Bukan menghitung bumbu. Tiga siung itu terlalu berharga untuk langsung masuk penggorengan.

Mungkin cukup dua saja. Mungkin satu setengah. Mungkin setengahnya lagi untuk makan malam. Harga bawang telah mengubah cara ibu-ibu mengambil keputusan.

Baca Juga:Ketika Tasikmalaya Akan Menjadi Kota Vespa Selama Dua Hari!Bawang Merah Menguji Iman

Dulu bawang merah adalah benda paling santai di dapur. Ambil. Iris. Tumis. Selesai.

Sekarang tidak lagi. Bawang sudah naik kasta. Ia menjadi komoditas strategis keluarga.

Setiap irisan harus dipertanggungjawabkan. Setiap lembar bawang punya nilai ekonomi. Sampai-sampai ada ibu yang mengiris bawang setipis kertas fotokopi. Bukan karena sedang ikut lomba keterampilan. Tetapi karena sedang melawan inflasi.

Lalu lahirlah fenomena baru. “Bawangless Cooking”. Masakan tanpa bawang. Ini hampir seperti sepak bola tanpa bola.

Masih bisa dimainkan. Tapi terasa aneh.

Kencur mulai naik jabatan. Jahe mendapat promosi. Lengkuas mulai dipercaya. Daun salam menjadi pemain inti.

Mereka mengisi posisi yang ditinggalkan bawang merah. Tentu hasilnya tidak sama.

Karena di dapur, bawang merah bukan sekadar bumbu. Ia adalah identitas.

Baca Juga:Tiang Penyangga Amir Mahpud!Wahid Mengalahkan Prediksi!

Anak-anak menjadi pengamat paling jujur. Mereka tidak peduli harga bawang naik. Mereka tidak membaca berita ekonomi.

Mereka tidak mengikuti data inflasi. Mereka hanya tahu satu hal. Masakan ibu berubah rasa. “Ma, kok beda?” Pertanyaan sederhana itu kadang lebih menyakitkan daripada laporan Badan Pusat Statistik.

Karena ibu tahu penyebabnya. Bukan karena lupa resep. Bukan karena salah masak. Tetapi karena harga bawang terlalu tinggi.

Sebagian ibu mulai berpindah ke bawang bubuk. Praktis. Awet. Lebih murah. Tetapi tetap ada yang hilang. Seperti mendengarkan konser melalui rekaman ponsel.

Lagunya sama. Rasanya berbeda.

Aroma tumisan yang biasanya memenuhi rumah perlahan berkurang. Dapur kehilangan sebagian jiwanya.

Tetapi dampak terbesar sebenarnya bukan di dapur. Melainkan di dompet. Dapur hanya gejalanya. Dompet adalah sumber sakitnya. Bayangkan.

Harga bawang yang biasanya Rp28 ribu tiba-tiba melonjak menjadi Rp45 ribu atau bahkan Rp50 ribu.

0 Komentar