Tiang Penyangga Amir Mahpud!

H Amir Mahpud
H. Amir Mahpud bersama Hj. Tine Yuniati, sang istri. (IST)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Usianya 58 tahun. Tidak muda lagi. Tetapi energinya masih seperti orang yang baru memulai kehidupan.

Namanya Hj Tine Yuniati. Hari ini ia berulang tahun. Ke-58. Saya jadi teringat satu percakapan dengan H Amir Mahpud beberapa waktu lalu. Bukan soal politik.Bukan soal bisnis. Bukan pula soal Partai Gerindra yang kini ia pimpin di Jawa Barat.

Melainkan soal rumah tangga. Soal seorang perempuan yang selama ini jarang tampil di depan panggung. Tetapi justru menjadi penentu arah pertunjukan.

Baca Juga:Wahid Mengalahkan Prediksi!Pasien Jiwa Mengantre (Part 2): Dulu Takut Kelaparan, Kini Takut Tagihan!

Perempuan itu adalah Hj Tine Yunianti. Amir Mahpud bercerita panjang. Saya lebih banyak mendengar. Sesekali mengangguk. Sesekali tersenyum.

Sebab yang ia ceritakan bukan sekadar istrinya. Melainkan orang yang ia anggap sebagai kekuatan utama dalam hidupnya.

“Kalau tidak ada beliau, mungkin saya tidak seperti sekarang,” begitu kira-kira pengakuannya. Kalimat itu terdengar sederhana.

Tetapi saya tahu tidak semua laki-laki mau mengakuinya. Apalagi laki-laki yang sudah berhasil.

Apalagi yang sudah berada di puncak usaha dan politik. Biasanya mereka lebih suka bicara tentang kerja kerasnya sendiri. Tentang perjuangannya sendiri. Tentang keberhasilannya sendiri.

Amir Mahpud berbeda. Ia justru berkali-kali menyebut nama istrinya.Seolah ingin memastikan bahwa kesuksesan yang ia raih bukan hasil kerja seorang diri.

Saya membayangkan hidup seperti sebuah orkestra besar. Ada banyak pemain. Ada banyak alat musik. Ada banyak suara yang harus diselaraskan. Namun tanpa dirigen, semuanya bisa berubah menjadi kebisingan.

Baca Juga:Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026Satu Bakul dari Kota Tasikmalaya, Banyak Harapan untuk Indonesia!

Di keluarga Amir Mahpud, dirigen itu tampaknya adalah Hj Tine. Ia mengatur ritme rumah tangga. Ia menjaga keseimbangan. Ia memastikan semua berjalan pada waktunya.

Ketika suaminya sibuk mengurus bisnis. Ketika suaminya sibuk mengurus politik. Ketika suaminya harus berpindah dari satu agenda ke agenda lainnya.

Ada seseorang yang memastikan rumah tetap menjadi tempat pulang yang nyaman.Tugas itu sering tidak terlihat. Tetapi justru paling menentukan.

Karena kesuksesan seorang laki-laki sering kali dimulai dari ketenangan yang ia dapatkan di rumah.

Saya kemudian teringat sebuah istilah yang sering digunakan orang-orang Sunda. Jimat. Bukan dalam arti benda mistis. Bukan pula sesuatu yang disimpan dalam kantong.

0 Komentar