Pasien Jiwa Mengantre (Part 2): Dulu Takut Kelaparan, Kini Takut Tagihan!

Sakit jiwa
Gambar ilustrasi: AI
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID -Dulu orang stres karena tidak punya pekerjaan. Sekarang banyak yang punya pekerjaan, tetapi tetap stres.

Dulu orang takut kelaparan. Sekarang orang takut tagihan. Takut cicilan. Takut kehilangan pekerjaan. Takut gagal. Takut tertinggal. Takut tidak dianggap berhasil.

Ketakutan itu datang setiap hari. Tanpa suara. Tanpa bentuk. Tetapi terus menumpuk di kepala.

Baca Juga:Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026Satu Bakul dari Kota Tasikmalaya, Banyak Harapan untuk Indonesia!

Mungkin itu sebabnya antrean Poli Kejiwaan RSUD dr Soekardjo semakin panjang. Jumlah pasien meningkat. Mayoritas justru berada di usia produktif.

Usia yang seharusnya menjadi masa paling kuat dalam kehidupan seseorang. Mengapa bisa begitu? Jawabannya tidak sederhana.

Gangguan jiwa bukan seperti demam yang penyebabnya mudah dicari.

Ia lebih mirip benang kusut. Saling terkait.

Saling menarik. Saling memperparah. Faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab terbesar.

Harga kebutuhan pokok naik. Biaya pendidikan naik. Biaya kesehatan naik. Sementara penghasilan banyak keluarga berjalan di tempat.

Akibatnya tekanan hidup ikut meningkat. Banyak orang tersenyum di luar. Tetapi kepalanya penuh perhitungan. Besok bayar apa. Bulan depan dapat uang dari mana.

Anak sekolah pakai biaya apa.

Belum lagi perubahan sosial yang begitu cepat. Media sosial menciptakan dunia yang aneh. Semua orang terlihat bahagia.

Semua orang terlihat sukses. Semua orang terlihat kaya.

Padahal yang terlihat hanyalah potongan terbaik dari kehidupan mereka. Akibatnya banyak orang tanpa sadar membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain.

Baca Juga:Mencari Dirigen Baru Birokrasi Kabupaten Tasikmalaya!Gerindra Mulai Menghitung Hari!

Perbandingan itu sering berakhir pada rasa tidak puas. Merasa gagal. Merasa kurang. Merasa tertinggal. Padahal belum tentu demikian.

Tekanan berikutnya datang dari keluarga. Hubungan rumah tangga. Perceraian. Konflik orang tua dan anak. Kekerasan dalam rumah tangga. Hingga kesepian yang diam-diam tumbuh di dalam rumah sendiri.

Ironisnya, seseorang bisa hidup bersama banyak orang tetapi tetap merasa sendirian. Di sinilah gangguan mental sering menemukan celah. Masuk perlahan.

Lalu menetap lama. Belum lagi pasca pandemi yang ternyata masih meninggalkan bekas.

Banyak orang memang sudah sembuh secara fisik. Tetapi tidak sedikit yang belum sepenuhnya pulih secara psikologis. Kehilangan pekerjaan. Kehilangan keluarga. Kehilangan rasa aman. Bekas itu tidak selalu terlihat. Namun tetap ada.

0 Komentar