Pasien Jiwa Mengantre (Part 2): Dulu Takut Kelaparan, Kini Takut Tagihan!

Sakit jiwa
Gambar ilustrasi: AI
0 Komentar

Para ahli menyebut kesehatan jiwa bukan hanya soal penyakit. Melainkan kemampuan seseorang menghadapi tekanan hidup.

Masalahnya, tekanan hidup hari ini jauh lebih berat dibanding satu dekade lalu.

Informasi datang tanpa henti. Ponsel tidak pernah berhenti berbunyi. Persaingan semakin ketat. Ekspektasi semakin tinggi.

Waktu istirahat semakin sedikit.

Baca Juga:Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026Satu Bakul dari Kota Tasikmalaya, Banyak Harapan untuk Indonesia!

Tubuh manusia mungkin hidup di tahun 2026. Tetapi otaknya dipaksa bekerja selama 24 jam. Tidak heran jika banyak yang akhirnya tumbang.

Karena itu, meningkatnya pasien gangguan jiwa seharusnya tidak dipandang sebagai aib. Justru itu pertanda masyarakat mulai berani mencari pertolongan.

Yang lebih berbahaya adalah mereka yang menderita diam-diam. Tidak bercerita kepada siapa pun. Tidak mencari bantuan. Tidak datang ke dokter.

Padahal gangguan jiwa, seperti penyakit lainnya, memiliki peluang lebih besar untuk pulih jika ditangani sejak awal. Antrean di Poli Kejiwaan RSUD dr Soekardjo sebenarnya sedang menyampaikan pesan.

Pesan yang sangat sederhana. Bahwa pembangunan kota tidak cukup hanya membangun jalan. Tidak cukup hanya membangun gedung. Tidak cukup hanya membangun pusat perbelanjaan.

Kota juga harus membangun ketahanan jiwa warganya. Karena di zaman sekarang, musuh terbesar manusia sering kali bukan berada di luar dirinya. Melainkan berada di dalam kepalanya sendiri. (red)

0 Komentar