TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Yang dicari Labuan Bajo ternyata bukan investor. Bukan pula hotel baru. Bukan kapal wisata yang lebih besar.
Yang mereka cari justru sebuah “bakul”.Bakul dari Tasikmalaya. Saya membayangkan rapat itu.
Di sebuah daerah wisata yang sedang naik daun. Hotel-hotel penuh. Restoran ramai. Kapal wisata hilir mudik mengantar wisatawan menikmati keindahan laut Flores.
Baca Juga:Mencari Dirigen Baru Birokrasi Kabupaten Tasikmalaya!Gerindra Mulai Menghitung Hari!
Ekonomi bergerak. Pariwisata tumbuh. Tetapi ada satu persoalan yang ikut membesar. Sisa makanan.
Jumlahnya mengejutkan. Sekitar 70 ton per hari. Angka itu bukan karangan. Makanan itu berasal dari hotel, restoran, kapal wisata, pusat kuliner, dan berbagai aktivitas pariwisata lainnya.
Sebagian memang harus dibuang. Tetapi sebagian lainnya masih sangat layak dikonsumsi.
Masalahnya klasik. Tidak ada sistem yang mampu menghubungkan makanan berlebih dengan masyarakat yang membutuhkan.
Akibatnya makanan berakhir di tempat sampah. Sementara masih ada warga yang kesulitan mendapatkan makanan yang layak. Paradoks itu terjadi setiap hari.
Lalu nama Kota Tasikmalaya muncul dalam pembicaraan mereka. Bukan karena industri bordir. Bukan karena payung geulis. Bukan pula karena sentra santri. Melainkan karena sebuah program bernama Bakul Tasik.
Program sederhana yang lahir dari kegelisahan yang sederhana pula. Bagaimana caranya makanan yang masih layak tidak terbuang percuma. Dan bagaimana makanan itu bisa sampai kepada orang yang membutuhkannya.
Baca Juga:Muskorda Jadi-jadian!Demy Anggaran!
Cerita Bakul Tasik bermula ketika Penjabat Wali Kota Tasikmalaya saat itu, Cheka Virgowansyah, melihat dua persoalan yang berjalan beriringan.
Di satu sisi masih banyak warga yang membutuhkan bantuan pangan. Di sisi lain tidak sedikit makanan layak konsumsi yang terbuang.
Cheka melihat keduanya seharusnya bisa dipertemukan. Dari situlah lahir gagasan Bakul Tasik. Singkatan dari Bagi-bagi Kumpulan Makanan untuk Masyarakat Tasikmalaya. Namanya sederhana. Pelaksanaannya juga tidak rumit. Tetapi dampaknya besar.
Program ini mengumpulkan makanan berlebih yang masih layak konsumsi dari hotel, restoran, pelaku usaha, komunitas, hingga berbagai kegiatan sosial.
Makanan itu kemudian diseleksi, dipastikan aman, lalu disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan. Prioritasnya keluarga miskin, warga rentan, dan masyarakat kurang mampu. Bukan sekadar berbagi makanan. Tetapi juga membangun sistem penyelamatan pangan.
