TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kursi itu belum kosong terlalu lama. Tapi sudah ada empat orang yang bersiap duduk di sana. Kursi Sekretaris Daerah Kabupaten Tasikmalaya.
Jabatan tertinggi bagi seorang ASN di daerah itu. Bupati boleh datang dan pergi. Wakil bupati bisa berganti. DPRD berubah setiap lima tahun. Tetapi roda birokrasi sehari-hari tetap bergantung pada seorang sekda.
Karena itu kursi ini tidak pernah biasa. Empat nama kini muncul ke permukaan setelah lolos seleksi administrasi.
Baca Juga:Gerindra Mulai Menghitung Hari!Muskorda Jadi-jadian!
Mereka akan melanjutkan pertarungan berikutnya. Menariknya, komposisinya tidak lazim. Tiga orang berasal dari luar lingkaran dalam Setda Kabupaten Tasikmalaya. Satu orang berasal dari jantung birokrasi internal.
Yang paling jauh datang dari Karawang. Dr H Kurniawan AK CA. Saat ini menjabat Kepala Biro Umum dan Keuangan Universitas Singaperbangsa Karawang.
Dunia kampus tentu berbeda dengan dunia birokrasi pemerintahan daerah. Tetapi pengalaman mengelola organisasi besar menjadi modal yang tidak bisa dianggap remeh.
Nama kedua sudah sangat dikenal di lingkungan Pemkab Tasikmalaya. Drs H Roni Akhmad Sahroni. Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah. Sekaligus Pj Sekda Kabupaten Tasikmalaya saat ini.
Jika bicara APBD, pendapatan, belanja dan angka-angka keuangan daerah, ia termasuk orang yang paling memahami dapur fiskal Kabupaten Tasikmalaya.
Nama ketiga adalah Dr H Rubi Azhara SSTP MSi. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Tasikmalaya.
Dari empat kandidat, mungkin dialah yang paling dekat dengan fungsi-fungsi koordinasi pemerintahan yang sehari-hari dijalankan seorang sekda.
Lalu ada nama yang cukup mengejutkan.
Baca Juga:Demy Anggaran!Gaji Selamat, Pelayanan Tamat!
Soufian SE MSi. Camat Bojongasih. Dari kantor kecamatan langsung masuk gelanggang perebutan kursi sekda.
Ini seperti pemain dari divisi berbeda yang tiba-tiba lolos ke babak utama. Tetapi justru di situlah menariknya.
Open bidding memang dibuat untuk membuka peluang lebih luas. Bukan hanya soal siapa yang paling senior. Bukan pula siapa yang paling dekat dengan pusat kekuasaan.
Setidaknya secara teori. Karena dalam praktiknya, seleksi sekda selalu memiliki dua arena. Arena pertama adalah ruang ujian. Ada tes kompetensi, makalah, presentasi dan wawancara. Arena kedua adalah ruang persepsi.
