Karena itu Bakul Tasik tidak hanya berbicara soal bantuan sosial. Program ini juga berbicara tentang ketahanan pangan. Tentang bagaimana makanan yang sebelumnya berpotensi menjadi sampah bisa kembali memiliki nilai manfaat.
Tentang bagaimana pemerintah mampu menjadi penghubung antara kelebihan dan kekurangan. Antara yang memiliki dan yang membutuhkan.
Dinas Sosial Kota Tasikmalaya kemudian menjadi motor penggeraknya. Melalui berbagai kegiatan, termasuk program Tasik Bageur dan Raksa Budaya Santun, makanan yang terkumpul didistribusikan langsung ke berbagai wilayah. Gerakan itu terus berjalan. Tidak berhenti sebagai proyek seremonial.
Baca Juga:Mencari Dirigen Baru Birokrasi Kabupaten Tasikmalaya!Gerindra Mulai Menghitung Hari!
Hasilnya mulai terlihat. Badan Pangan Nasional memberikan apresiasi kepada program tersebut. Penghargaan itu bukan diberikan karena anggaran yang besar.
Justru sebaliknya. Karena efektivitasnya. Karena mampu menyelamatkan pangan sekaligus membantu masyarakat. Karena mampu menjawab dua persoalan sekaligus dalam satu gerakan. Food waste berkurang. Masyarakat terbantu.
Maka tidak mengherankan ketika sebuah NGO yang bekerja sama dengan Pemerintah Labuan Bajo meminta agar program itu dijadikan rujukan.
Bahkan Dinas Sosial Kota Tasikmalaya diundang secara khusus untuk memaparkan konsep, mekanisme, dan pengalaman menjalankan Bakul Tasik.
Mereka ingin belajar. Mereka ingin memahami bagaimana Kota Tasikmalaya membangun sistem tersebut. Tentu tidak akan disalin mentah-mentah.
Setiap daerah memiliki karakter yang berbeda. Labuan Bajo adalah kota wisata internasional. Sumber makanan berlebihnya berasal dari hotel berbintang, kapal wisata, dan restoran besar.
Namun prinsip dasarnya sama. Makanan yang masih layak harus sampai kepada orang yang membutuhkan. Bukan berakhir di tempat sampah.
Baca Juga:Muskorda Jadi-jadian!Demy Anggaran!
Ada banyak program pemerintah yang lahir dengan gegap gempita. Diluncurkan dengan spanduk besar. Dibuka dengan seremoni panjang. Lalu hilang ketika pejabatnya berganti.
Bakul Tasik justru berjalan dengan cara yang berbeda. Tidak banyak gaduh. Tidak banyak slogan. Tetapi manfaatnya nyata.Bahkan kini menjadi bahan pembelajaran bagi daerah lain.
Kota Tasikmalaya mungkin bukan kota terbesar di Indonesia. Bukan pula kota dengan APBD terbesar. Namun dari kota inilah lahir sebuah gagasan yang kini menarik perhatian daerah wisata kelas dunia.
Sebuah program yang berangkat dari kepedulian. Dari keinginan agar tidak ada makanan yang terbuang sia-sia. Dan agar tidak ada warga yang tidur dalam keadaan lapar ketika makanan berlebih masih tersedia.
