TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Siang itu layar Zoom menjadi penentu. Bukan panggung muktamar. Bukan pula forum besar yang dipenuhi tepuk tangan.
Hanya layar-layar kecil. Wajah-wajah yang muncul dari berbagai daerah. Tetapi keputusan yang lahir dari sana cukup besar untuk politik Kota Tasikmalaya lima tahun ke depan.
H. Wahid kembali dipercaya memimpin DPC PKB Kota Tasikmalaya periode 2026–2031.
Keputusan itu datang langsung dari DPP PKB.
Baca Juga:Pasien Jiwa Mengantre (Part 2): Dulu Takut Kelaparan, Kini Takut Tagihan!Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Susunan pengurus inti pun langsung ditetapkan. H. Wahid sebagai ketua. Heni Hendini sebagai sekretaris. Ahmad Jun Shakan sebagai bendahara.
Yang menarik justru bukan hasil akhirnya.
Melainkan jalan menuju hasil itu. Sebab, sebelum keputusan turun, banyak yang memperkirakan arah angin akan berembus ke kandidat lain.
Nama H. Oleh Soleh cukup sering disebut.
Bukan tanpa alasan. Ia anggota DPR RI. Punya posisi politik yang sedang berada di puncak karier. Jaringan nasionalnya luas. Elektabilitas internalnya juga diperhitungkan.
Banyak yang menganggap pertarungan sudah selesai bahkan sebelum dimulai. Ternyata tidak. DPP PKB memiliki hitungan sendiri. Dan hitungan itu berujung pada satu nama: Wahid.
Politik memang tidak selalu tentang siapa yang paling tinggi jabatannya. Kadang justru tentang siapa yang paling lama berjalan.
Wahid termasuk tipe kader yang berjalan sangat panjang. Bahkan sangat panjang.
Ia bukan kader yang muncul mendadak menjelang pemilihan.
Ia juga bukan kader yang tiba-tiba datang membawa kekuatan baru. Jejaknya bisa ditarik hingga tahun 2000.
Baca Juga:Satu Bakul dari Kota Tasikmalaya, Banyak Harapan untuk Indonesia!Mencari Dirigen Baru Birokrasi Kabupaten Tasikmalaya!
Saat itu ia masih menjadi Wakil Ketua DPAC PKB Kecamatan Tamansari. Lima tahun kemudian naik menjadi Ketua DPAC.
Lalu menjadi Sekretaris DPC. Kemudian Wakil Ketua DPC. Sampai akhirnya dipercaya menjadi Ketua DPC PKB Kota Tasikmalaya pada periode 2021–2026.
Kalau dihitung, lebih dari seperempat abad hidupnya berada di jalur yang sama. PKB.
Tidak berpindah. Tidak meloncat. Tidak mencari kendaraan lain.
Saya selalu tertarik pada politisi yang lahir dari bawah. Bukan karena romantisme. Tetapi karena biasanya mereka memahami denyut masyarakat secara lebih nyata.
Wahid pernah menjadi loper koran. Profesi yang hari ini mungkin sudah mulai langka.
