TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Usia 28 tahun bagi manusia sudah dianggap matang. Sudah tidak muda lagi. Sudah mulai memikirkan masa depan yang lebih serius.
Tapi tidak bagi Vespa. Semakin tua, justru semakin dicintai. Karena itu saya tersenyum ketika mendengar kabar bahwa Scooter Tasikmalaya Club (STC) akan merayakan ulang tahunnya yang ke-28 pada 20-21 Juni 2026 mendatang. Tempatnya di kampus STMIK Tasikmalaya.
Dua puluh delapan tahun. Bukan usia yang pendek untuk sebuah komunitas. Banyak organisasi lahir penuh semangat lalu hilang ditelan zaman. Banyak pula komunitas yang pecah karena ego dan perbedaan. Namun STC masih bertahan. Bahkan terus tumbuh.
Baca Juga:Bawang Merah Menguji ImanTiang Penyangga Amir Mahpud!
Tentu ada resepnya. Bukan hanya karena Vespa. Tetapi karena persaudaraan. Karena itulah acara yang diberi tajuk Vespaphoria ini tidak sekadar menjadi pesta ulang tahun komunitas scooter. Ia lebih mirip perayaan persahabatan yang sudah dirawat hampir tiga dekade.
Selama dua hari penuh, berbagai kegiatan akan digelar. Mulai dari Running Thunder yang akan menggetarkan jalanan Kota Tasikmalaya dengan iring-iringan Vespa dari berbagai daerah.
Ada pula donor darah. Kegiatan yang sederhana tetapi memiliki makna besar. Sebab setetes darah sering kali lebih berharga daripada seribu kata-kata.
Ada Dyno Test bagi mereka yang penasaran dengan performa mesin kesayangannya. Ada santunan sosial yang menunjukkan bahwa komunitas otomotif tidak hanya bicara knalpot dan karburator.
Ada pula bursa jual beli, bazar, hingga berbagai contest yang akan menjadi ruang silaturahmi antarpecinta scooter.
Malam harinya suasana akan berubah. Mesin-mesin Vespa akan beristirahat. Panggung musik yang mengambil alih.Panitia menghadirkan Denny Frust, Pertelon Koplo, dan Dhyo Haw untuk menghibur para peserta dan pengunjung.
Maka lengkaplah sudah. Siang berbicara soal hobi. Malam berbicara soal nostalgia.Saya juga tertarik pada satu hal. STC ternyata tetap konsisten membawa pesan yang sejak dulu mereka pegang.
Baca Juga:Wahid Mengalahkan Prediksi!Pasien Jiwa Mengantre (Part 2): Dulu Takut Kelaparan, Kini Takut Tagihan!
Mereka ingin mengubah citra buruk komunitas motor. Mereka ingin memelihara persatuan sesama pecinta otomotif.
Mereka ingin ikut mempromosikan pariwisata Tasikmalaya. Mereka ingin menanamkan budaya tertib berlalu lintas.
