TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Harga bawang merah kembali membuat ibu-ibu mengelus dada. Rp45.000 per kilogram.
Mungkin bagi sebagian orang angka itu tidak terlalu mengejutkan. Tidak sampai harga emas. Tidak sampai harga daging premium. Tidak sampai harga mobil listrik.
Tapi jangan salah. Di dapur Indonesia, bawang merah bukan sekadar komoditas.
Baca Juga:Tiang Penyangga Amir Mahpud!Wahid Mengalahkan Prediksi!
Ia adalah nyawa. Coba bayangkan. Sayur asem tanpa bawang merah. Sambal tanpa bawang merah.
Oseng kangkung tanpa bawang merah. Ayam goreng tanpa bawang merah. Masih bisa dimakan. Tapi ada sesuatu yang hilang. Seperti lagu tanpa nada pembuka. Seperti surat cinta tanpa salam. Seperti politik tanpa janji.
Maka kenaikan harga bawang selalu menjadi drama nasional yang tidak pernah masuk berita utama.
Padahal dampaknya nyata. Terutama bagi para ibu. Mereka yang paling pertama merasakan kenaikan harga. Bukan menteri.
Bukan anggota DPR. Bukan gubernur.
Melainkan ibu yang berdiri di depan tukang sayur setiap pagi. Mereka yang harus menghitung. Kalau bawang naik, apakah uang belanja cukup sampai akhir minggu?
Kalau bawang mahal, apakah uang jajan anak harus dikurangi? Kalau bawang naik lagi, apakah warung nasi masih untung?
Di situlah ekonomi sesungguhnya bekerja.
Bukan di ruang rapat. Tapi di keranjang belanja.
Lalu apa yang bisa dilakukan ibu-ibu?Biasanya mereka lebih pintar daripada pemerintah. Mereka langsung beradaptasi. Irisan bawang dibuat lebih tipis. Pemakaian dikurangi. Bumbu lain diperbanyak.
Baca Juga:Pasien Jiwa Mengantre (Part 2): Dulu Takut Kelaparan, Kini Takut Tagihan!Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Kencur naik pangkat. Jahe mendapat promosi. Daun salam mendapat kesempatan tampil. Ada yang mulai menggunakan bawang bubuk.
Ada yang menanam bawang sendiri di pot. Ada yang patungan membeli satu karung.
Bahkan grup WhatsApp ibu-ibu berubah fungsi. Bukan lagi membahas gosip. Melainkan intelijen harga bawang.
“Bu, di Pasar Cikurubuk Rp45 ribu.”
“Bu, di pasar lain Rp47 ribu.”
“Bu, tunggu besok katanya turun. Informasi menjadi senjata.
Tetapi pertanyaan yang lebih menarik adalah: Kenapa pemerintah selalu kesulitan mengendalikan harga bawang Jawabannya tidak sederhana. Karena bawang bukan diproduksi pabrik.
Bawang bergantung pada cuaca. Musim hujan terlalu panjang, produksi turun. Musim kemarau terlalu ekstrem, produksi turun. Serangan hama datang, produksi turun.
