Begitu pasokan berkurang sedikit saja, harga langsung melonjak. Sementara kebutuhan masyarakat tidak pernah turun. Semua orang tetap memasak. Semua orang tetap makan.
Lalu siapa yang paling untung? Banyak orang langsung menuduh tengkulak. Padahal kenyataannya sering lebih rumit. Petani justru sering tidak menikmati harga tinggi itu.
Saat harga di pasar Rp45.000 per kilogram, harga di tingkat petani bisa jauh lebih rendah. Ada biaya sortir. Ada biaya angkut. Ada biaya penyimpanan. Ada risiko busuk. Ada rantai distribusi yang panjang.
Baca Juga:Tiang Penyangga Amir Mahpud!Wahid Mengalahkan Prediksi!
Petani sering menjual ketika panen raya dengan harga murah. Ketika stok menipis beberapa bulan kemudian, harga di pasar naik.
Yang menikmati kenaikan belum tentu petani. Inilah paradoks bawang Indonesia. Saat harga murah, petani menangis. Saat harga mahal, konsumen menangis. Yang tersenyum sering berada di tengah-tengah.
Lalu siapa yang mengatur harga? Secara teori: pasar. Secara praktik: banyak faktor.
Produksi. Distribusi. Cuaca. Permintaan. Psikologi pasar.
Bahkan isu kecil tentang gagal panen bisa membuat harga bergerak. Pemerintah bisa melakukan operasi pasar. Bisa memperlancar distribusi. Bisa menjaga stok.
Tetapi pemerintah tidak bisa memerintahkan bawang untuk tumbuh lebih cepat. Itulah sebabnya harga bawang sering lebih sulit dikendalikan dibanding harga barang lain.
Apakah setelah naik bisa turun? Tentu bisa.
Bahkan hampir selalu turun. Sejarah bawang merah Indonesia selalu seperti itu.
Naik. Turun. Naik lagi. Turun lagi. Seperti sinetron yang episodenya tidak pernah tamat.
Baca Juga:Pasien Jiwa Mengantre (Part 2): Dulu Takut Kelaparan, Kini Takut Tagihan!Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Masalahnya, ibu-ibu tidak hidup dalam teori ekonomi. Mereka hidup hari ini. Mereka harus memasak hari ini. Mereka harus belanja hari ini. Mereka tidak bisa menunggu grafik harga bulan depan.
Karena itu, setiap kali harga bawang naik, jangan anggap itu sekadar urusan dapur.
Itu adalah indikator paling jujur tentang daya beli rakyat. Sebab inflasi sesungguhnya bukan angka di layar komputer.
Inflasi adalah ketika seorang ibu berdiri lebih lama di depan lapak bawang. Memegang kantong belanja. Menghitung ulang uang di dompet. Lalu berkata pelan kepada pedagang:n“Pak, setengah kilo saja.”
