Ibu-Ibu Mulai Bernegosisasi Bawang Merah di Dapur!

Bawang merah
Ilustrasi: AI
0 Komentar

Bagi keluarga biasa mungkin terasa mengganggu. Bagi pedagang makanan kecil, ini bisa menjadi masalah serius.

Warung nasi. Pedagang gorengan. Penjual seblak. Pedagang bakso. Mereka semua bergantung pada bawang. Ketika harga bawang naik, biaya produksi ikut naik.

Pilihannya hanya dua. Harga dinaikkan. Atau keuntungan dikurangi. Kedua-duanya menyakitkan. Jika harga dinaikkan, pelanggan mengeluh.

Baca Juga:Ketika Tasikmalaya Akan Menjadi Kota Vespa Selama Dua Hari!Bawang Merah Menguji Iman

Jika harga tidak dinaikkan, pedagang yang menanggung beban. Maka yang terjadi biasanya jalan tengah. Untungnya makin tipis. Tipis seperti irisan bawang tadi pagi.

Di rumah tangga juga begitu. Anggaran keluarga harus mencari korban. Karena uang tidak bertambah. Yang bertambah hanya harga.

Uang jajan anak dikurangi sedikit. Pulsa ditunda dulu. Ngopi di luar dibatalkan. Arisan bulan depan dipikir ulang. Semua demi satu hal. Menyelamatkan dapur. Karena kalau dapur terganggu, seluruh rumah ikut terganggu.

Namun seperti biasa. Ibu-ibu Indonesia selalu punya solusi yang tidak diajarkan di kampus ekonomi mana pun. Muncullah apa yang bisa disebut “Bank Bawang”.

Bukan bank resmi. Tidak ada izin OJK. Tidak ada kantor cabang. Tidak ada aplikasi. Tetapi sistemnya berjalan. Satu RW patungan membeli satu karung bawang.

Harga grosir lebih murah. Kemudian dibagi rata. Tidak ada direksi. Tidak ada komisaris. Tidak ada rapat tahunan. Yang ada hanya semangat bertahan hidup.

Di situlah saya sering kagum. Ketika negara masih sibuk membahas stabilisasi harga.

Baca Juga:Tiang Penyangga Amir Mahpud!Wahid Mengalahkan Prediksi!

Ibu-ibu sudah lebih dulu menemukan stabilisasi versi mereka sendiri. Mereka tidak punya kewenangan.

Mereka tidak punya anggaran triliunan. Mereka hanya punya akal. Dan ternyata akal sering kali lebih cepat bekerja daripada kebijakan.

Karena bagi ibu-ibu, harga bawang bukan angka statistik. Harga bawang adalah pertanyaan sederhana yang harus dijawab setiap hari: “Besok masak apa?” Dan pertanyaan itu, ternyata jauh lebih sulit daripada menyusun teori ekonomi. (red)

0 Komentar