TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Tiga ratus orang berdiri tegak di Primajasa Exhibition Centre Kabupaten Tasikmalaya. Mereka datang dari tiga daerah yang bertetangga: Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, dan Garut.
Mereka bukan hendak mengikuti pertandingan. Bukan pula sedang bersiap menghadapi demonstrasi. Mereka sedang belajar. Belajar menjadi laskar.
Itulah yang menarik perhatian. Selama ini kata “laskar” sering identik dengan barisan yang keras. Dengan teriakan. Dengan otot. Dengan unjuk kekuatan.
Baca Juga:Ibu-Ibu Mulai Bernegosisasi Bawang Merah di Dapur!Ketika Tasikmalaya Akan Menjadi Kota Vespa Selama Dua Hari!
Tetapi yang terdengar dari Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Barat, H Amir Mahpud, justru sebaliknya. “Laskar Gerindra bukan kekuatan fisik semata,” katanya saat membuka Diklat Laskar Gerindra Jawa Barat, Jumat (12/6).
Kalimat itu penting. Sebab politik Indonesia terlalu sering dipenuhi suara keras. Padahal rakyat lebih membutuhkan kerja keras.
Diklat yang berlangsung 12-14 Juni 2026 itu dihadiri banyak tokoh penting. Hadir pula Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi, Wakil Bupati Tasikmalaya Asep Sopari Al Ayubi, yang sama-sama kader Geribdra, seluruh anggota Fraksi Gerindra dari Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya dan Garut, serta jajaran pengurus DPC dan organisasi sayap partai di wilayah Priangan Timur.
Namun inti acara bukan pada siapa yang hadir. Melainkan pada pesan yang ingin ditanamkan. H Amir Mahpud tampak ingin membangun definisi baru tentang laskar.
Menurutnya, laskar harus kuat dalam tiga hal. Pertama, pemikiran. Kader harus memahami arah perjuangan partai, memahami nasionalisme, dan mengerti cita-cita besar Indonesia.
Kedua, moral. Kejujuran, keberanian dan tanggung jawab harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi.
Ketiga, pengabdian. Kader harus hadir di tengah rakyat. Mendengar keluhan rakyat. Membantu mencarikan solusi. Sebab, kata H Amir, persoalan bangsa ini bukan kekurangan orang pintar.
Baca Juga:Bawang Merah Menguji ImanTiang Penyangga Amir Mahpud!
Bukan pula kekurangan orang berani. Yang sering kurang adalah orang yang mau hadir ketika rakyat membutuhkan. Ketika banjir datang. Ketika harga kebutuhan naik. Ketika warga kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Ketika masyarakat merasa tidak didengar.
Di situlah kader politik diuji. Bukan saat kampanye. Bukan saat pemilu. Tetapi ketika rakyat sedang kesulitan.
