H Amir Mahpud juga mengingatkan satu hal yang menarik. Bahwa Jawa Barat adalah barometer politik nasional. Jumlah penduduknya besar. Dinamika masyarakatnya cepat. Karakter warganya beragam.
Karena itu, menurutnya, Laskar Gerindra Jawa Barat harus menjadi garda terdepan menjaga marwah partai dan memenangkan hati rakyat.
Bukan sekadar memenangkan pemilu. Tetapi memenangkan kepercayaan publik.
Itulah kata kuncinya. Kepercayaan. Karena di era sekarang, kepercayaan jauh lebih mahal daripada baliho.
Baca Juga:Ibu-Ibu Mulai Bernegosisasi Bawang Merah di Dapur!Ketika Tasikmalaya Akan Menjadi Kota Vespa Selama Dua Hari!
Lebih mahal daripada spanduk. Bahkan lebih mahal daripada popularitas. Kepercayaan tidak bisa dibeli. Ia harus dibangun melalui kerja nyata. Di bagian akhir pidatonya, Amir Mahpud memberi target yang sangat jelas.
Ia meminta seluruh kader memastikan kemenangan Partai Gerindra pada Pemilu 2029 dan mengantarkan Presiden Prabowo Subianto kembali terpilih untuk periode kedua.
Target itu tentu bukan pekerjaan ringan. Tetapi setiap partai memang hidup dari target dan harapan. Tanpa target, organisasi akan berjalan tanpa arah. Tanpa kaderisasi, partai akan kehilangan masa depan.
Karena itu, memahami mengapa diklat seperti ini menjadi penting. Partai politik sering dinilai hanya muncul menjelang pemilu.
Padahal partai yang sehat seharusnya sibuk melakukan kaderisasi setiap saat.
Mendidik. Membina. Menyiapkan generasi penerus.
Malam itu, di Primajasa Exhibition Centre, semya melihat sebuah upaya ke arah sana.
Tiga ratus peserta duduk mendengarkan. Sebagian mencatat. Sebagian merekam.
Mungkin mereka datang dengan latar belakang berbeda.
Ada yang pengusaha. Ada yang petani. Ada yang aktivis. Ada pula yang baru mengenal dunia politik. Tetapi selama tiga hari mereka dipersatukan oleh satu tujuan.
Belajar menjadi kader. Belajar menjadi laskar. Dan seperti kata Amir Mahpud, laskar yang dibutuhkan hari ini bukanlah mereka yang paling keras berteriak.
Baca Juga:Bawang Merah Menguji ImanTiang Penyangga Amir Mahpud!
Melainkan mereka yang paling siap mengabdi. Karena rakyat tidak membutuhkan pahlawan yang hanya pandai berbicara. Rakyat membutuhkan pejuang yang mau bekerja. (red)
