TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kita harus percaya. Bawang merah bukan lagi sekadar bumbu dapur. Ia sudah naik level. Menjadi penguji mental. Terutama mental ibu-ibu.
Harga bawang yang melonjak ternyata tidak hanya mengganggu masakan. Ia juga mengganggu suasana hati.
Karena setiap pagi ada ritual yang tidak pernah tercatat dalam laporan ekonomi. Ritual membuka dompet. Ritual melihat harga pasar. Ritual menghitung ulang kebutuhan rumah tangga. Semua itu melelahkan.
Baca Juga:Dari Tasikmalaya untuk 2029, Laskar Gerindra yang Tak Akan Berhenti Bergerak!Ibu-Ibu Mulai Bernegosisasi Bawang Merah di Dapur!
Apalagi ketika harga yang dilihat ternyata lebih tinggi dari kemarin. Maka jangan heran. Ada ibu yang tadinya ceria saat berangkat ke pasar. Pulang dengan wajah lebih serius dari auditor BPK.
Bawang memang unik. Cabai mahal masih bisa dikurangi. Gula mahal masih bisa dikurangi. Tetapi bawang? Sulit. Karena hampir semua masakan Indonesia dimulai dari suara yang sama. “Cesss…”
Suara bawang masuk ke minyak panas. Suara itu seperti lagu kebangsaan dapur.
Ketika suara itu berkurang, suasana hati ikut berubah. Masakan terasa kurang “nendang”. Dan ketika masakan tidak nendang, yang kena sering kali bukan bawangnya. Melainkan suaminya.
Maka tidak heran grup WhatsApp ibu-ibu mendadak berubah fungsi. Awalnya tempat berbagi undangan pengajian. Tempat mengingatkan jadwal arisan. Tempat mengabarkan tetangga yang hajatan.
Kini berubah menjadi pusat intelijen bawang nasional. Pesannya sangat cepat.
Bahkan lebih cepat dari laporan resmi.
“Bu, di Pasar Cikurubuk Rp45 ribu.”
“Bu, di pasar lain Rp42 ribu.”
“Bu, tunggu sore, katanya ada stok baru.”
Saya yakin. Jika kemampuan investigasi ibu-ibu ini digunakan untuk mengungkap korupsi, mungkin banyak kasus selesai dalam seminggu.
Yang menarik justru bukan kepanikannya.
Melainkan kreativitasnya. Semakin mahal bawang. Semakin canggih ide yang muncul.
Lahir resep-resep baru. Sambal tomat tanpa bawang. Balado tanpa bawang.
Seblak tanpa bawang.
Bahkan mungkin suatu hari akan muncul buku berjudul: “101 Cara Bertahan Hidup Tanpa Bawang.” Dan anehnya tetap enak. Karena kreativitas memang sering lahir dari keterpaksaan.
Baca Juga:Ketika Tasikmalaya Akan Menjadi Kota Vespa Selama Dua Hari!Bawang Merah Menguji Iman
Tasikmalaya punya istilah sendiri. “Moal béak akal.” Tidak akan habis akal.
