Bertahan Hidup Tanpa Bawang Merah!

BAWANG MERAH
gambar ilustrasi: AI
0 Komentar

Harga boleh naik. Dompet boleh menipis.

Tapi ide tidak pernah habis. Di situlah kekuatan ibu-ibu sebenarnya. Bukan di uangnya. Melainkan di kemampuannya mengubah masalah menjadi solusi.

Namun dampak paling menarik justru muncul dalam jangka panjang. Banyak ibu mulai berpikir: Daripada terus mengeluh.

Kenapa tidak menanam sendiri? Maka halaman rumah berubah fungsi.

Polybag bermunculan. Di sudut pagar.

Di depan teras. Di samping jemuran. Tumbuhlah bawang-bawang kecil.

Tidak banyak. Tidak cukup untuk dijual.

Tetapi cukup untuk mengurangi ketergantungan.

Saya membayangkan tiga bulan ke depan.

Seorang ibu memanen bawang hasil tanamannya sendiri. Jumlahnya hanya beberapa kilogram.

Baca Juga:Dari Tasikmalaya untuk 2029, Laskar Gerindra yang Tak Akan Berhenti Bergerak!Ibu-Ibu Mulai Bernegosisasi Bawang Merah di Dapur!

Tetapi senyumnya lebih besar daripada hasil panennya. Karena ada kepuasan yang tidak bisa dibeli. Yakni berhasil mengalahkan mahalnya harga pasar.

Lebih menarik lagi. Harga bawang ternyata membuat masyarakat menjadi lebih pintar.

Biasanya saat arisan yang dibahas adalah tetangga.

Sekarang yang dibahas distribusi pangan. Biasanya yang dibicarakan gosip artis. Sekarang yang dibicarakan impor bawang.

Biasanya yang diperdebatkan model baju.

Sekarang yang diperdebatkan rantai pasok.

Ternyata bawang berhasil melakukan sesuatu yang tidak berhasil dilakukan banyak seminar ekonomi. Membuat rakyat tertarik pada ekonomi.

Kini ibu-ibu mulai bertanya. Kenapa harga petani murah tetapi harga pasar mahal?

Siapa yang menikmati selisihnya? Kenapa distribusi selalu bermasalah? Mengapa impor sering datang terlambat? Ke mana stok saat harga melonjak? Pertanyaan-pertanyaan itu lahir dari dapur.

Tetapi gaungnya bisa sampai ke kantor pemerintahan.

Mungkin itulah pelajaran terbesar dari bawang. Ia bukan hanya mengajari cara memasak. Ia mengajari cara berpikir. Karena setiap kali harga bawang naik, rakyat sebenarnya sedang belajar satu hal penting:

Baca Juga:Ketika Tasikmalaya Akan Menjadi Kota Vespa Selama Dua Hari!Bawang Merah Menguji Iman

Bahwa urusan pangan bukan sekadar urusan petani. Bukan sekadar urusan pedagang. Bukan sekadar urusan pemerintah. Melainkan urusan semua orang yang setiap hari masih harus makan.

Dan selama bawang masih menjadi raja dapur Indonesia, setiap kenaikan harganya akan selalu menjadi berita. Bukan di televisi. Tetapi di hati para ibu. (red)

0 Komentar