Defisit yang Direncanakan

Anggaran kota tasikmalaya
Gambar ilustrasi: AI
0 Komentar

Maka rumah itu hanya akan menjadi gambar. Bukan bangunan. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, defisit kali ini mulai berdampak pada operasional pemerintahan. SIPD kegiatan dihentikan. Belanja dibatasi. Program tertunda. Pihak ketiga mulai cemas. Kontraktor mulai menghitung ulang kemampuan usahanya.

Masyarakat mulai bertanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Karena rakyat tidak peduli istilah defisit. Rakyat hanya ingin pelayanan berjalan. Jalan diperbaiki. Lampu jalan menyala. Sampah diangkut. Program terlaksana. Selesai.

Jika tahun 2024 defisit Rp25 miliar. Lalu tahun berikutnya menjadi Rp50 miliar.

Maka publik berhak khawatir. Karena tren lebih penting daripada angka.

Baca Juga:Tebak-tebakan, Calon Pemilik Tiga Kursi Dinas di Pemerintah Kota Tasikmalaya!Bertahan Hidup Tanpa Bawang Merah!

Ketika angka terus naik, artinya ada sesuatu yang tidak diperbaiki. Dan sejarah menunjukkan satu hal. Krisis keuangan daerah tidak pernah datang tiba-tiba.

Ia datang perlahan. Dimulai dari optimisme yang berlebihan. Lalu target pendapatan yang terlalu tinggi. Kemudian belanja yang terlalu berani. Dan berakhir pada satu kalimat yang paling ditakuti semua bendahara. “Uangnya tidak cukup.”

Karena itu yang dibutuhkan sekarang bukan menambah program. Bukan menambah janji. Bukan pula menambah pencitraan. Yang dibutuhkan adalah keberanian.

Keberanian mengatakan bahwa kondisi keuangan sedang tidak baik-baik saja. Keberanian memangkas program yang tidak prioritas. Keberanian menyesuaikan mimpi dengan isi dompet.

Sebab sejarah keuangan mengajarkan satu pelajaran penting. Kota tidak bangkrut karena kekurangan program. Kota bangkrut karena terlalu banyak program yang tidak mampu dibiayai.

Dan ketika defisit sudah diketahui sejak awal, tetapi tetap dibiarkan membesar, maka yang patut dipertanyakan bukan lagi angka defisitnya. Melainkan siapa yang membiarkan defisit itu tumbuh. (red)

0 Komentar