Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Edukasi Kesehatan Reproduksi Cegah Kejahatan Seksual di Sekolah

kesehatan reproduksi remaja
Para Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya berfoto bersama para pelajar usai melaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat di SMPN 9 Kota Tasikmalaya, Kamis (18/6/2026). (ist)
0 Komentar

Sejumlah survei menunjukkan bahwa meskipun remaja semakin mudah memperoleh informasi, pemahaman mereka mengenai kesehatan reproduksi belum mengalami peningkatan yang signifikan.

Kondisi tersebut menuntut adanya langkah-langkah strategis untuk memastikan remaja memperoleh informasi yang benar, akurat, dan sesuai dengan tahap perkembangannya. Salah satu upaya yang dinilai efektif adalah melalui pendidikan kesehatan reproduksi yang diberikan dengan metode pembelajaran yang menarik, mudah dipahami, dan sesuai dengan karakteristik remaja.

“Pendidikan kesehatan reproduksi dapat dilaksanakan baik melalui kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler di lingkungan sekolah. Program-program edukasi ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap dan perilaku yang bertanggung jawab dalam menjaga kesehatan reproduksi,”ujarnya.

Baca Juga:Honor Tim Rp 552 Juta, Defisit Tembus Rp200 Miliar!Defisit yang Direncanakan

Selain mencegah perilaku seksual berisiko, pendidikan kesehatan juga menjadi benteng penting dalam melindungi anak dan remaja dari berbagai bentuk kejahatan seksual yang saat ini semakin marak, seperti child grooming, child sexual abuse, dan penyalahgunaan media digital untuk eksploitasi seksual (sexting).

Untuk itu, Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya melakukan edukasi kesehatan reproduksi melalui metoda bermain dalam meningkatkan kewaspadaan kegiatan seksual anak sekolah di SMP Negeri 9 Kota Tasikmalaya.

“Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan kemampuan anak-anak usia sekolah dalam mengenali, mencegah, dan melaporkan potensi kejahatan seksual yang mungkin mereka hadapi. Selain memberikan edukasi, kegiatan ini juga diharapkan mampu mendorong terbentuknya lingkungan sekolah yang lebih aman dan responsif terhadap perlindungan anak,”katanya.

Metoda yang digunakan pada kegiatan dengan pendekatan yang menyenangkan melalui metoda bermain.

“Metode ini dipilih karena dinilai mampu meningkatkan pemahaman peserta secara efektif sekaligus membangun kewaspadaan terhadap berbagai bentuk ancaman kejahatan seksual,”ujarnya.

Hasil luaran yang diharapkan dari program tersebut antara lain publikasi hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan pembentukan satuan tugas (satgas) rintisan anti-kejahatan seksual di sekolah.

“Satgas ini akan bekerja sama dengan Jurusan Keperawatan Poltekkes Tasikmalaya dalam mengembangkan program pencegahan dan perlindungan anak secara berkelanjutan,”katanya.

Baca Juga:Tebak-tebakan, Calon Pemilik Tiga Kursi Dinas di Pemerintah Kota Tasikmalaya!Bertahan Hidup Tanpa Bawang Merah!

Kemudian, melalui sinergi antara sekolah, keluarga, tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat, pendidikan kesehatan reproduksi diharapkan dapat menjadi investasi jangka panjang dalam menciptakan generasi muda yang sehat, berpengetahuan, serta mampu melindungi diri dari berbagai risiko dan ancaman kejahatan seksual di era digital. (riz)

0 Komentar