Di Balik Panggung Anniversary STC ke-28: Pasukan Tanpa Honor!

Stc
Anggota STC berfoto bersama. (IST)
0 Komentar

Ada Ketua Panitia Asep Saeful Efendi yang harus memastikan setiap detail berjalan sesuai rencana.

Ada Mang Ade DJ sebagai LO acara yang sibuk mengatur lalu lintas tamu dan kebutuhan lapangan.

Ada Padrik yang mendokumentasikan sejarah agar tidak hilang ditelan waktu.

Ada Holis, sang MC, yang menjaga suasana tetap hidup.

Ada Ringgo dan Pras yang berjibaku dengan urusan teknis yang biasanya baru ketahuan ketika sesuatu tidak berfungsi.

Baca Juga:Bukan Sekadar Kinclong!Unsil Dorong Teknologi Pengolahan Sampah Rumah Tangga untuk Kurangi Beban ke TPA Ciangir

Ada Uje, Opan, dan Eeng yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban. Ada Bendot dan istrinya, Siti, yang mengurus logistik—pekerjaan yang sering dianggap sederhana sampai makanan terlambat datang.

Ada Bowo yang menjaga keamanan area. Dan ada Depille beserta istri yang mengurus tim kontes, memastikan penilaian berjalan objektif dan profesional.

Mereka bukan orang-orang yang mendapat honor besar. Sebagian besar bahkan tidak mendapat apa-apa selain rasa capek. Namun justru merekalah yang membuat acara besar bisa berdiri.

Hampir setiap bulan mereka berkumpul di sekretariat STC. Menjelang hari H, frekuensinya meningkat menjadi mingguan.

Kadang rapat selesai dengan keputusan. Kadang selesai dengan kebingungan baru.

Kadang pulang membawa solusi. Kadang pulang membawa tagihan. Begitulah organisasi.

Yang terlihat sering kali hasilnya. Yang tidak terlihat adalah prosesnya. Dan proses selalu jauh lebih melelahkan.

Seminggu sebelum pelaksanaan, sebagian pengurus bahkan sudah menginap di lokasi acara di STIMIK Tasikmalaya.

Mereka bukan sedang berkemah. Mereka sedang bertarung dengan daftar pekerjaan yang tidak pernah habis.

Lapangan harus dirapikan. Buldozer didatangkan agar permukaan tanah rata.

Baca Juga:Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Edukasi Kesehatan Reproduksi Cegah Kejahatan Seksual di SekolahHonor Tim Rp 552 Juta, Defisit Tembus Rp200 Miliar!

Area parkir harus disiapkan. Panggung harus dipastikan aman. Sound system harus diuji.

Loading perlengkapan harus dicek berulang kali. Di dunia event, musuh terbesar bukan hujan. Melainkan satu kalimat sederhana:

“Ada yang kurang.” Kalimat itu bisa membuat panitia tidak tidur semalaman.

Karena satu kabel yang hilang bisa membuat acara terganggu. Satu genset yang bermasalah bisa membuat panggung mati. Satu kesalahan kecil bisa menghapus kerja keras berbulan-bulan.

Di hari-hari terakhir menjelang acara, rasa lelah dan rasa cemas hidup berdampingan. Mereka ingin acara segera dimulai.

0 Komentar