Di Balik Panggung Anniversary STC ke-28: Pasukan Tanpa Honor!

Stc
Anggota STC berfoto bersama. (IST)
0 Komentar

Tetapi juga takut ada yang belum siap. Mereka ingin acara cepat selesai. Tetapi juga ingin semua berjalan sempurna. Itulah ironi menjadi panitia.

Ketika acara berlangsung lancar, orang menganggap semuanya mudah. Ketika ada masalah sedikit saja, semua mata langsung mencari panitia.

Namun malam itu akhirnya tiba. Lapangan penuh. Panggung menyala. Scooterist berdatangan dari berbagai daerah. Tawa terdengar di mana-mana.

Baca Juga:Bukan Sekadar Kinclong!Unsil Dorong Teknologi Pengolahan Sampah Rumah Tangga untuk Kurangi Beban ke TPA Ciangir

Mesin-mesin Vespa klasik memenuhi area acara. Bendera komunitas berkibar. Musik mengalun. Kontes berjalan. Silaturahmi terjadi.

Dan yang paling penting, STC berhasil menunjukkan bahwa usia 28 tahun bukan sekadar angka. Melainkan bukti ketahanan sebuah persaudaraan.

Saya membayangkan, setelah acara selesai, mungkin ada pengurus yang baru bisa tidur nyenyak. Mungkin ada yang baru menghitung sisa tenaga.

Mungkin ada yang baru sadar bahwa selama berminggu-minggu mereka hidup dalam tekanan. Tetapi satu hal pasti. Jerih payah mereka terbayar. Bukan karena mendapatkan keuntungan besar. Bukan karena menjadi terkenal.

Melainkan karena berhasil menghadirkan kebahagiaan bagi ribuan orang yang datang.

Di zaman ketika banyak organisasi sibuk memperebutkan jabatan, STC justru memberi pelajaran berbeda. Bahwa organisasi yang kuat bukan dibangun oleh orang-orang yang pandai berbicara.

Tetapi oleh orang-orang yang bersedia mengangkat kursi, memasang tenda, mengatur parkir, menalangi kekurangan dana, dan tetap tersenyum ketika acara selesai.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak selalu ditulis oleh mereka yang berdiri di atas panggung. Sering kali sejarah justru ditulis oleh mereka yang bekerja diam-diam di belakangnya. Dan Anniversary ke-28 STC adalah salah satu buktinya. (red)

0 Komentar