TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Perjuangan menghadirkan keadilan gender tidak selalu lahir dari meja kebijakan atau ruang seminar yang penuh istilah akademis.
Justru, perubahan besar bisa dimulai dari ruang paling dekat dengan kehidupan manusia: rumah.
Pesan itu mengemuka dalam bedah buku Menata Keadilan Gender dari Rumah karya Hj Affi Endah Navilah MPd yang digelar di Gedung Galih Pawestri, Jumat (5/6/2026).
Baca Juga:Parkir Kota Tasikmalaya Dikelola Yayasan, Harapan Tertib Mengaspal di Empat Ruas Jalan StrategisBSMSS 2026 Garap Jalan 1,5 Kilometer di Salawu, Akses Warga Jahiang Tasikmalaya Mulai Keluar dari Kubangan
Kegiatan tersebut menghadirkan langsung penulis buku bersama akademisi gender Dr Isti’anah MAg, budayawan Bode Riswandi MPd, dan aktivis perempuan An An Aminah MPd.
Diskusi berlangsung hangat membedah berbagai persoalan yang masih dihadapi perempuan, mulai dari kuatnya budaya patriarki, pembagian peran dalam keluarga, hingga pentingnya membangun relasi yang saling menghargai antara perempuan dan laki-laki.
Aktivis perempuan An An Aminah menilai buku karya Affi Endah terasa dekat dengan realitas yang dihadapi banyak perempuan.
Dengan bahasa yang ringan, buku tersebut dinilai mampu menyampaikan pesan bahwa perempuan memiliki peran penting, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
An An bahkan membagikan pengalaman pribadinya yang tumbuh di lingkungan pesantren dengan budaya patriarki yang masih cukup kuat.
Ia mengaku sempat mempertanyakan mengapa dirinya tidak terlahir sebagai laki-laki karena melihat adanya perbedaan kesempatan yang diterima.
“Ketika kecil saya melihat laki-laki identik dengan sumber ekonomi dan memiliki ruang gerak lebih luas. Sementara perempuan sering kali hanya dianggap sebagai penerima. Seiring waktu saya memahami bahwa yang paling penting bukan soal menjadi laki-laki atau perempuan, tetapi bagaimana kita memiliki kesempatan untuk berkembang dan mendapatkan ruang yang aman,” ujarnya.
Baca Juga:Kas Daerah Diperketat, SIPD Dikunci Sebagian; Pemkot Tasikmalaya Prioritaskan Belanja Apa? IPAL TPA Ciangir Belum Optimal, Aktivis Lingkungan Soroti Proyek Rp3,6 Miliar yang Masih Terseok
Menurutnya, perempuan yang hidup dalam lingkungan patriarki membutuhkan ruang refleksi agar mampu mengenali potensi diri dan tidak terus terjebak dalam batasan sosial yang diwariskan turun-temurun.
Sebab, tidak semua yang dianggap lumrah selalu harus diterima tanpa dipertanyakan.
An An juga menyoroti perubahan yang terjadi di media sosial.
Jika dahulu perempuan lebih sering diposisikan sebagai objek yang dinilai dari penampilan fisik, kini ruang digital mulai membuka panggung bagi gagasan dan pemikiran mereka.
