“Orang sekarang tidak hanya melihat foto yang menarik. Mereka juga melihat pemikiran dan nilai yang dibawa seseorang. Itu menunjukkan bahwa perempuan memiliki ruang yang semakin luas untuk menyuarakan gagasannya,” katanya.
Sementara itu, akademisi gender Dr Isti’anah menilai buku tersebut lahir dari kegelisahan yang banyak dirasakan perempuan di tengah dominasi budaya patriarki.
Menariknya, kegelisahan itu dibingkai melalui pendekatan keagamaan yang membumi sehingga mudah dipahami berbagai kalangan.
Baca Juga:Parkir Kota Tasikmalaya Dikelola Yayasan, Harapan Tertib Mengaspal di Empat Ruas Jalan StrategisBSMSS 2026 Garap Jalan 1,5 Kilometer di Salawu, Akses Warga Jahiang Tasikmalaya Mulai Keluar dari Kubangan
Menurutnya, masih banyak perempuan yang tanpa sadar dibatasi oleh konstruksi sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Akibatnya, perempuan sering kali ditempatkan hanya di ruang domestik dan kehilangan kesempatan yang sama untuk berkembang.
“Buku ini mengajak pembaca melihat kembali berbagai hal yang selama ini dianggap wajar. Apakah itu benar-benar kodrat atau hanya konstruksi sosial yang diwariskan terus-menerus,” ungkapnya.
Ia menambahkan, buku tersebut penting karena mampu menjembatani teori keadilan gender dengan praktik kehidupan sehari-hari, terutama bagi perempuan yang belum merasakan hubungan setara dalam rumah tangga.
Pandangan senada disampaikan budayawan Bode Riswandi.
Menurutnya, buku tersebut tidak hadir untuk mempertentangkan perempuan dan laki-laki, melainkan mengajak keduanya membangun kemitraan yang sehat dan saling menghormati.
Dalam perspektif kebudayaan, kata Bode, perempuan memiliki posisi yang sangat penting sebagai sumber lahirnya generasi dan peradaban.
Namun dalam perjalanan sejarah, berbagai konstruksi sosial membuat perempuan kerap dipandang sekadar pelengkap.
Baca Juga:Kas Daerah Diperketat, SIPD Dikunci Sebagian; Pemkot Tasikmalaya Prioritaskan Belanja Apa? IPAL TPA Ciangir Belum Optimal, Aktivis Lingkungan Soroti Proyek Rp3,6 Miliar yang Masih Terseok
“Buku ini menarik karena tidak mengajak orang saling menyalahkan. Justru mengajak laki-laki dan perempuan memahami perannya masing-masing secara lebih adil,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pekerjaan domestik bukanlah pekerjaan kelas dua yang bisa dipandang sebelah mata.
Mengurus rumah, mendidik anak, hingga menjaga keluarga merupakan pekerjaan mulia yang sering luput dari penghargaan.
“Sering kali pekerjaan rumah dianggap biasa karena tidak menghasilkan uang secara langsung. Padahal di balik itu ada tenaga, waktu, dan pengorbanan yang luar biasa. Kadang yang terlihat sederhana justru menjadi fondasi utama sebuah keluarga,” katanya.
