TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Klaim percepatan penyempurnaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di TPA Ciangir, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, mendapat sorotan dari aktivis lingkungan setempat.
Agus Sofyan atau yang akrab disapa Jarwo menilai proyek senilai Rp3,6 miliar tersebut hingga kini belum menunjukkan fungsi optimal sebagaimana tujuan awal pembangunannya.
Menurut Jarwo, sejumlah fasilitas memang sudah terpasang, termasuk jaringan pipa yang menjadi bagian dari sistem pengolahan limbah.
Baca Juga:Didera Penyakit Menahun, Warga Mangkubumi Tasikmalaya Ditemukan Meninggal di RumahnyaJenazah Pemuda Asal Cisayong Ditemukan Tergantung di Jembatan Kereta Api Ciawi Tasikmalaya
Namun, fungsi pendukung yang seharusnya menjadi nyawa operasional instalasi dinilai belum berjalan maksimal.
“Pipanya memang sudah terpasang, tetapi air bersihnya belum mengalir optimal. Kalau melihat kondisi sekarang, saya menilai belum sesuai dengan semangat optimalisasi TPA yang selama ini disampaikan,” ujarnya kepada Radar Tasikmalaya, Kamis (4/6/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan informasi yang diterimanya, air dari lindi akan diolah kemudian disirkulasikan kembali untuk kebutuhan operasional.
Namun hingga saat ini sistem tersebut dinilai belum berjalan sebagaimana mestinya.
Jarwo juga menyoroti lamanya proses penyelesaian proyek.
Menurutnya, pekerjaan fisik yang semula ditargetkan selesai dalam 90 hari kerja justru molor hingga berganti tahun.
“Pengerjaan dimulai sekitar September 2025. Sekarang sudah berganti tahun, tetapi masih ada banyak yang belum beres. Bahkan aliran listrik baru tersedia belakangan ini,” katanya.
Kondisi tersebut, lanjut dia, memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas perencanaan proyek sejak awal. Terlebih, anggaran yang digelontorkan melalui APBD mencapai lebih dari Rp3,5 miliar.
Baca Juga:Insentif RT RW se-Kota Tasikmalaya Tersendat, Forsil Desak Pemkot Hentikan Birokrasi yang Jalan di TempatLingkar Pasar Cikurubuk Tasikmalaya Rusak Menahun: Butuh Rp15,4 Miliar, Tambal Sulam Jadi Penawar
“Kalau bicara angka Rp3,6 miliar, masyarakat tentu berhak melihat hasil yang sebanding. Silakan lihat langsung ke lapangan, apakah sudah sesuai dengan nilai anggaran yang dialokasikan,” sindirnya.
Jarwo mengaku sebelumnya sempat menyampaikan aspirasi terkait proyek tersebut melalui audiensi dengan DPRD Kota Tasikmalaya.
Bahkan, sejumlah pihak juga telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi.
Namun menurutnya, evaluasi baru kembali mengemuka setelah muncul sorotan publik dan inspeksi dari legislatif.
“Jangan sampai ketika ada sentilan dari masyarakat baru bergerak. Pengawasan itu mestinya berjalan terus, bukan hanya saat ada sorotan,” ucapnya.
Ia berharap perbaikan yang kini dijanjikan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya benar-benar direalisasikan dalam waktu dekat.
