Sebab, keberadaan IPAL sangat penting untuk menekan potensi pencemaran lingkungan di sekitar TPA Ciangir.
“Harapan saya sederhana, percepat penyelesaiannya dan pastikan benar-benar berfungsi. Jangan sampai masih ada pencemaran yang terjadi karena sistem pengolahannya belum optimal,” tegasnya.
Jarwo juga mengaku mendapat informasi adanya sejumlah komponen dan mesin yang mengalami gangguan akibat terlalu lama tidak dioperasikan karena pasokan listrik belum tersedia.
Baca Juga:Didera Penyakit Menahun, Warga Mangkubumi Tasikmalaya Ditemukan Meninggal di RumahnyaJenazah Pemuda Asal Cisayong Ditemukan Tergantung di Jembatan Kereta Api Ciawi Tasikmalaya
“Katanya ada beberapa komponen yang rusak karena terlalu lama tidak digunakan. Kalau memang benar, ini menunjukkan perencanaan sejak awal belum matang,” tandasnya.
Sebelumnya, DLH Kota Tasikmalaya menyatakan tengah menindaklanjuti berbagai temuan Komisi III DPRD Kota Tasikmalaya terkait kekurangan pada proyek IPAL TPA Ciangir.
Salah satu fokus utama yang akan dibenahi yakni penyediaan instalasi air bersih, penyempurnaan jaringan pipa, serta perbaikan aerator yang masih dalam masa pemeliharaan.
DLH menargetkan seluruh penyempurnaan teknis dapat diselesaikan sebelum 1 Juli 2026. Namun di tengah target tersebut, kritik publik masih mengalir.
Sebab bagi sebagian kalangan, optimalisasi IPAL tidak cukup diukur dari berdirinya bangunan fisik semata, melainkan dari kemampuannya mengolah limbah dan mencegah pencemaran lingkungan secara nyata. (rezza rizaldi)
