PANGANDARAN, RADARTASIK.ID – Hasil panen padi di Pangandaran tidak sesuai harapan para petani. Hal ini berkaitan dengan kondisi kemarau yang membuat suplai air ke sawah menjadi minim.
Salah seorang petani di Kecamatan Parigi Sadili (53) mengatakan, untuk hasil panen kali ini banyak gabah padi yang hasilnya sangat jelek. “Kalau orang sini bilangnya gabug (isinya kosong),” katanya kepada Radar Jumat (7/8/2026).
Menurut dia, selain isinya kosong, banyak juga gabah yang hasilnya berwarna hitam dan tentunya tidak bisa digiling. “Ya inikan gara-gara kurang air, kalau panen terakhir kemarin hasilnya lumayan bagus,” ujarnya
Baca Juga:NORMA NETIZEN!Belum Siap Eksekusi, Padahal Sistem dan CCTV Sudah Dibuat untuk Digitalisasi Pengelolaan Parkir di Kota Tasikm
Dari satu tempat saja, ia hanya bisa mendapatkan padi sebanyak 7 kwintal. Biasanya ia bisa mendapat 1 ton lebih. Dari 3 tempat, ia bisa mendapatkan 2 ton padi. “Tapi sekarang kurang maksimal,” ucapnya.
Namun, harga jual gabah saat ini terhitung cukup bagus, sekitar Rp 800 ribu per kwintalnya. “Sebagian besar saya jual, sebagian lagi disimpan di leuit (tempat penyimpanan padi), nanti digiling jadi beras,” katanya.
Kata dia, hasil panen yang kurang maksimal juga dirasakan oleh petani lainya. Karena sebagian besar sawah mereka berjenis tada hujan.
Petani lainya Karso (50) juga merasakan hal yang sama. Dari satu tempat ia hanya mendapatkan sekitar 3 kuintal saja.”Makanya saya ikut gacong (ikut panen) ke orang lain, ya lumayan nambah-nambah,” katanya.
Ia mengatakan, sebagian besar gabah yang ia panen itu akan dijual.”Paling beberapa kilo untuk kebutuhan sehari-hari,” ucapnya.(Deni Nurdiansah)
Deni Nurdiansah/Radar Tasikmalaya
LADANG. Sejumlah petani di Parigi Kabupaten Pangandaran sedang memanen padi di sawah, Jumat (7/8/2026
