TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Pemerintah Desa Tanjungsari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, menyiapkan aset tanah kas desa seluas 42 hektare sebagai sumber baru Pendapatan Asli Desa (PADes). Lahan tersebut diproyeksikan dikembangkan menjadi kawasan wisata, agrowisata, dan berbagai sektor ekonomi produktif yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Potensi tersebut disampaikan Kepala Desa Tanjungsari, Atep Abdul Cholik, dalam program Bincang Radar di Studio Radar Tasikmalaya TV, Jumat (7/8/2026).
Selain memiliki aset tanah kas desa yang luas, Desa Tanjungsari juga ditopang sektor perkebunan rakyat, khususnya komoditas kayu alba. Sebagian besar masyarakat menggantungkan mata pencaharian sebagai buruh tani di perkebunan tersebut, yang turut mendorong berkembangnya usaha penggergajian kayu.
Baca Juga:Kades Tanjungbarang Cikatomas Tasikmalaya Dorong Solusi Terbaik Soal Portal, Dampaknya Harus DiperhitungkanPasundan Muaythai Academy Tasikmalaya Kirim 9 Atlet ke Kejurnas, Bidik Medali Jelang Porprov Jabar
“Kalau secara umum masyarakat kami mata pencahariannya mayoritas buruh tani di perkebunan rakyat. Kebanyakan berkebun kayu alba sehingga banyak masyarakat yang bergelut di sektor itu, termasuk usaha penggergajian kayu,” ujarnya.
Menurut Atep, potensi terbesar desa saat ini berada pada tanah kas desa seluas sekitar 42 hektare. Namun, aset tersebut belum mampu memberikan kontribusi maksimal terhadap PADes karena selama ini dikelola masyarakat secara turun-temurun.
Ia mengakui kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah desa untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan tanpa mengabaikan kondisi sosial masyarakat yang telah lama menggarapnya.
Pemerintah desa pun merancang pemanfaatan lahan tersebut sebagai kawasan wisata berbasis alam, agrowisata, dan pusat pemberdayaan ekonomi. Potensi itu didukung kondisi geografis Desa Tanjungsari yang didominasi kawasan perbukitan dengan panorama alam yang dinilai memiliki daya tarik.
“Kami ingin tanah kas desa ini ke depan bisa menjadi sumber PADes, baik melalui wisata, agrowisata maupun pemberdayaan ekonomi masyarakat. Wilayah kami berbukit dan memiliki pemandangan yang cukup indah apabila ditata dengan baik,” katanya.
Di balik potensi tersebut, Desa Tanjungsari juga menghadapi ancaman bencana alam. Kondisi geografis yang berada di kawasan perbukitan menyebabkan sejumlah wilayah rawan longsor dan pergerakan tanah.
Atep menyebut terdapat empat kampung yang masuk kawasan rawan bencana. Dua di antaranya, yakni Kampung Cinehel dan Kampung Garunggang, mengalami pergerakan tanah setiap musim hujan.
