Diky Candra Lepas Kontrol!

Diky Candra
Ilustrasi: AI
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kadang masalah besar lahir dari rasa sakit kecil. Sangat kecil. Hanya sentuhan di bekas infus. Lalu emosi meledak.

Cerita itu kini beredar di Kota Tasikmalaya. Tentang Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, yang disebut sempat lepas kontrol kepada seorang warga.

Awalnya sederhana. Seperti pertemuan pejabat dan rakyat pada umumnya. Ada yang ingin bersalaman. Ada yang meminta swafoto. Ada yang sekadar ingin dekat dengan tokoh publik yang selama ini hanya dilihat di media sosial.

Baca Juga:39 Tahun Wali Kota Tasikmalaya: Saatnya Menjawab Ekpektasi!Panas 43 Derajat Tak Surutkan Kekhusyukan Jamaah Haji asal Kota Tasikmalaya!

Saat itu Diky baru selesai menghadiri sebuah kegiatan. Kondisinya disebut belum terlalu fit. Sebelumnya ia memang sempat sakit dan menjalani perawatan infus di bagian lengan.

Lalu datanglah seorang pria memakai kupluk. Ia datang dari belakang. Mungkin terlalu antusias. Mungkin tidak tahu kondisi tangan sang wakil wali kota masih sensitif.

Tanpa sengaja tangannya mengenai bagian bekas infus. Dan di situlah semuanya berubah cepat. Sangat cepat.

Refleks Diky langsung keluar. Tangannya bergerak spontan. Leher pria berkupluk dengan rambut panjangnya itu dicekik. Tubuhnya didorong ke tembok.

Orang-orang di sekitar langsung terdiam. Kaget. Tidak percaya. Sebab yang mereka lihat bukan sekadar gerakan refleks biasa. Tapi ledakan emosi seorang pejabat publik di ruang terbuka.

Apalagi Diky dikenal punya kemampuan pencak silat yang cukup mumpuni. Gerak tubuhnya refleks. Cepat. Terlatih.

Maka ketika emosi bertemu refleks tubuh, hasilnya menjadi keras di mata publik. Pertanyaan pun muncul. Kenapa sampai se-emosi itu? Apakah karena rasa sakit di bekas infus? Apakah karena kondisi fisik belum pulih? Atau memang tekanan jabatan kadang membuat seseorang kehilangan jeda berpikir?

Baca Juga:Dapur MBG dan Iuran yang Berbisik di Kabupaten Tasikmalaya!Rangkap Sopian!

Untungnya cerita itu tidak berakhir panjang. Pria berkupluk tersebut ternyata memilih memaafkan. Ia bahkan meminta persoalan itu tidak terus diviralkan.

“Atos teu kenging di viralkan. Hawatos ka pejabat. Abdi atos lebar manah, atos islah,” ujarnya. Kalimat itu sederhana. Tapi terasa menenangkan.

Apalagi pria tersebut diketahui berprofesi sebagai guru ngaji. Ia memilih meredam keadaan, bukan memperpanjang masalah.

Sikap seperti itu justru membuat publik semakin bertanya: kenapa rakyat kecil kadang lebih mampu menahan emosi dibanding pejabat yang memiliki kuasa?

0 Komentar